April 19, 2010

Peran Ayah dalam Mendidik Anak

Peran ayah dalam pendidikan, dalam bahasa Inggris, ialah 'to father'. Di dalam bahasa Inggris terdapat tiga istilah yang berhubungan dengan tugas mendidik anak, yaitu 'mothering', 'fathering', dan 'parenting'. Meskipun semuanya membicarakan tentang tugas mendidik anak, namun ada keunikan masing-masing dalam konteks sumbangsih ayah dan ibu dalam mendidik anak.

Salah satu tugas ayah kristiani ialah:

"Kamu harus mengajarkannya (perintah Tuhan) kepada anak-anakmu dengan membicarakannya, apabila engkau duduk di rumahmu dan apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun;" (Ulangan 11:19)

Dengan jelas Tuhan menghendaki agar kita mengajarkan perintah Tuhan dengan cara membicarakannya. Apabila Anda seperti saya, mungkin Anda juga mengalami kesulitan membicarakan, apalagi mengajarkan perintah Tuhan kepada anak-anak Anda. Saya kira membicarakan dan mengajarkan bukanlah perkara yang terlalu sulit, yang terlebih sukar adalah membicarakan dan mengajarkan secara tepat dan pada waktu yang tepat sehingga dapat dicerna oleh anak kita. Ada satu peristiwa yang Tuhan berikan kepada isteri dan saya dimana kami berkesempatan mengajarkan dan membicarakan Firman Tuhan kepada salah satu anak kami. Pelajaran yang kami sampaikan berasal dari Matius 7:12 dan wahana penyampaiannya, tak lain tak bukan, bola basket.

Saya percaya bahwa salah satu alasan mengapa Matius 7:12 mendapat julukan "Hukum Emas" (The Golden Rule) adalah karena nilai yang terkandung di dalamnya bak emas yang sangat berharga. Hukum ini mengatur relasi kita dengan sesama secara agung sekaligus praktis. Perhatikan apa yang Tuhan Yesus katakan, "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi." Berbahagialah orang yang mampu menerapkan Firman Tuhan. Apabila seseorang memperlakukan orang lain sama seperti ia ingin diperlakukan, ia sudah memiliki "emas" yang tak ternilai. Sebagai orang tua kami pun rindu agar anak-anak kami mempunyai "emas" yang tak ternilai itu dan Tuhan telah menyediakan sarananya.

Suatu hari ibu guru salah seorang anak kami yang berumur hampir 9 tahun menelepon isteri saya untuk memberitahukan bahwa tadi anak kami menangis di sekolah. Menurut ibu guru tersebut, anak kami ingin bermain bola basket dengan kawan-kawannya namun mereka tidak mengizinkannya bermain dengan mereka. Ia merasa perlu memberitahukan kami sebab ia merasa prihatin melihat kesedihan anak kami yang mendalam itu. Pada sore harinya isteri saya menceritakan kepada saya perihal anak kami itu. Sebelumnya isteri saya sudah menanyakan anak kami dan ia bercerita bahwa memang benar ia menangis karena tidak diajak bermain bola basket. Reaksi alamiah kami adalah rasa iba sebab kami menyadari bahwa anak kami itu memang senang bermain basket. Penolakan teman-temannya sudah tentu mendukakan hatinya.

Mendengar peristiwa tersebut, dengan didorong oleh rasa iba dan hasrat untuk menghiburnya, saya bergegas memanggil anak kami itu dan mengajaknya bermain bola basket di halaman rumah. Melalui permainan itulah akhirnya Tuhan menyadarkan saya akan salah satu tugas mendidik selain dari menghibur anak, yakni mengajarkan Firman Tuhan. Tuhan membukakan mata saya terhadap hal-hal tersembunyi yang jauh lebih hakiki daripada sekadar menghibur anak. Pada saat bermain itulah baru saya memahami mengapa teman-temannya enggan mengajaknya bermain. Alasannya tidak lain tidak bukan adalah ia bermain curang! Naluri keayahan saya mendorong saya bertindak sebagai pahlawan yang ingin membela anak kami, seolah-olah dengan mengajaknya bermain saya berkata, "Biar semua orang tidak mau bermain denganmu, saya akan selalu siap bermain denganmu." Namun, ternyata dia jugalah pemicu perlakuan teman-temannya.

Pada waktu kami sedang bermain, kakaknya juga turut melempar-lempar bola ke basket. Adakalanya bola yang sedang dilemparnya bersentuhan dengan bola basket kakaknya dan ia pun dengan segera meminta mengulang ... dengan bola di tangannya lagi. Namun pada suatu ketika, bola itu bertabrakan dengan bola yang dilempar kakaknya, tetapi kebetulan saat itu, sayalah yang sedang melempar bola. Dengan serta merta ia mengambil bola dari tangan saya dan "menghukum" saya dengan cara memberinya hak untuk melempar bola ke basket dua kali. Saya berusaha menerangkannya bahwa keputusannya itu keliru namun ia tidak peduli dan malah mogok bermain. Dengan bersimpuh di tanah sambil menduduki bola itu ia bersikeras bahwa sayalah yang salah dan selayaknya menerima hukuman.

Saya mencoba untuk menjelaskan bahwa ia telah bertindak tidak adil sebab pada waktu hal yang sama terjadi pada dirinya bukan saja ia tidak menghukum dirinya, ia malah menghadiahi dirinya. Ia tetap tidak menerima penjelasan saya dan menolak untuk mengakui ketidakkonsistenannya. Di dalam ketidakkonsistenannya itu saya jelaskan padanya bahwa jika ia tetap berbuat demikian maka tidak akan ada orang yang ingin bermain lagi dengannya dan saya tidak ingin melihat ia menjadi orang yang tidak mempunyai teman. Setelah mengatakan hal itu, saya lalu memeluknya dan ia pun mulai meneteskan air mata. Kemudian saya menanyakan kembali, dan sekarang ia siap mengakui ketidakadilannya itu. Sesudah itu saya mengajaknya bermain lagi dan ia pun bermain jujur dan adil.

Saya berterima kasih kepada Tuhan yang tidak membiarkan saya melewati kesempatan emas yang tak ternilai itu. Betapa mudahnya bagi saya melakukan tugas keayahan saya dengan cara menghibur anak kami namun kehilangan pelajaran yang sangat berharga. Melalui peristiwa tersebut ada empat hal yang saya pelajari yang berfaedah bagi tugas keayahan:

1. Tugas mendidik menuntut waktu.
Sudah tentu keinginan atau kerinduan menjadi ayah yang baik adalah penting, namun tekad tersebut haruslah diwujudkan dalam bentuk waktu yang diberikan bagi anak kita. Tanpa waktu, tidak akan ada kesempatan "mengajarkan dengan cara membicarakan" pedoman hidup yang berasal dari Firman Tuhan. Jika saya tidak menyediakan waktu untuk bermain basket dengan anak kami, tidak akan ada peluang untuk menyaksikan kelakuannya dan sekaligus mengoreksi sikapnya.
2. Tugas mendidik membutuhkan kesediaan untuk melihat kelemahan anak kita.
Kita perlu terbuka untuk menerima kenyataan bahwa anak kita bukan saja tidak sempurna, namun akibat dosa, ia pun berpotensi merugikan orang lain. Adakalanya sulit bagi kita untuk mengakui kelemahan anak kita karena kelemahannya sedikit banyak merefleksikan kekurangan kita pula.
3. Tugas mendidik lebih mendahulukan pendekatan kasih daripada konfrontasi.
Kadang kita perlu memperhadapkan anak kita dengan perbuatannya secara tegas; sekali-sekali kita perlu menghukumnya. Namun yang harus lebih sering dan diutamakan adalah menegurnya dengan kasih. Makin keras saya menegurnya, makin bersikeras ia menyangkalnya. Sebaliknya, tatkala dengan lemah lembut saya menegurnya, ia pun luluh dan bersedia menerima perkataan saya.
4. Tugas mendidik yang kristiani menuntut kita menjadi ayah yang mengenal Firman Tuhan.
Tanpa pengenalan akan Firman Tuhan, kita tidak bisa mendidiknya seturut dengan Firman Tuhan. Hukum Emas dari Matius 7:12 sangatlah penting, tetapi masih banyak kebenaran Firman-Nya yang perlu kita sampaikan kepada anak kita.


sumber: http://www.benih.net/lifestyle/mencerdaskan-anak-ayah-pun-bisa-ikut-berperan.html


Mencerdaskan Anak, Ayah Pun Bisa Ikut Berperan

PERAN pendidikan bagi anak, tak melulu menjadi tanggung jawab sang ibu. Ayah pun sebaiknya terlibat aktif dalam pendidikan si kecil. Selami kemampuan anak sebelum mulai mendidik si buah hati.

Dalam masa pertumbuhan, orangtua mengambil peran yang sangat penting dalam mendidik anak. Nah, sebenarnya peran pendidikan ini tanggung jawab siapa? Tak harus ibu, ayah pun harus ikut berperan mendidik dan mencerdaskan buah hatinya.

“Anandi kalau belajar maunya sama saya, padahal kan ngajarin anak belajar itu tugas ayahnya, saya mah gak bisa, gak sabaran,” ucap Ela Hartani, seorang ibu rumah tangga yang sedang menceritakan pola pengasuhan anak kepada temannya saat arisan, beberapa waktu lalu.

Psikolog anak Roslina Verauli MPsi menyebutkan, peran orangtua dalam pengasuhan anak kerap mengalami perubahan seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan anak.

“Itu sebabnya, orangtua diharapkan mampu memahami tugas-tugas perkembangan anak untuk setiap tahap tumbuh kembangnya,” tuturnya saat acara yang diadakan Frisian Flag dengan tema “Smart Parents Confrence” di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Untuk menciptakan anak yang cerdas, orangtua harus terlebih dahulu memahami apa yang dimaksud dengan kecerdasan dan kemudian memahami perkembangan kognitif pada anak. Dengan demikian, orangtua khususnya ayah juga diharapkan menjadi fasilitator perkembangan anaknya.

Mengacu pada pakar psikologi perkembangan terkenal asal Swiss, Jean Piaget, Roslina menjelaskan, anak perlu melakukan aksi tertentu atas lingkungannya untuk dapat mengembangkan cara pandang yang kompleks dan cerdas atas setiap pengalamannya.

Dan sudah menjadi tugas orangtua untuk memberi anak pengalaman yang dibutuhkan anak agar mereka berkembang kecerdasannya. Setiap orangtua memiliki peranan yang besar bagi anak. Selama ini yang diketahui orangtua pada umumnya adalah peran mereka sebatas membesarkan dan melindungi anak agar kelak menjadi individu yang mandiri dan kompeten. Namun, seperti apa proses membesarkan anak, kerap menjadi tanda tanya.

“Yang dipikirkan orangtua adalah bagaimana mereka membesarkan anak dan menjadikannya sebagai individu yang mandiri dan berkualitas,” ucap psikolog yang akrab disapa Vera ini.

Hal tersebut dapat dimaklumkan karena setiap orangtua membawa sejumlah kualitas pribadi dan berbagai kebutuhan yang kompleks dalam peranannya sebagai orangtua.

Sama halnya seperti anak, orangtua juga memiliki jenis kelamin dan temperamen yang berbeda sehingga turut memberikan cara-cara yang berbeda dalam pengasuhan.

“Bahkan lebih jauh, orangtua membawa serta pengalaman masa lalunya terdahulu saat diasuh orangtuanya semasa ia kecil, dan sejumlah nilai budaya yang membentuk apa yang mereka lakukan saat ini,” papar Vera.

Selain itu, orangtua juga memiliki pola-pola kehidupan sosial, seperti hubungan bersama pasangan, keluarga besar, dan dunia kerja. Pola kehidupan sosial itulah yang secara otomatis dibawa dalam pengasuhan anak.

“Ini bukan hanya tugas ibu, tetapi kedua orangtua dalam membesarkan anak,” tandasnya.

Mengingat peran jenis kelamin turut memengaruhi pola pengasuhan, dikatakan Vera, banyak sekali pertanyaan yang terlontar, apakah ayah dan ibu memiliki peran-peran yang berbeda dalam pengasuhan?

“Secara umum, ayah dan ibu memiliki peran yang sama dalam pengasuhan anak-anaknya. Namun, ada sedikit perbedaan sentuhan dari apa yang ditampilkan ayah dan ibu,” ujar psikolog yang berpraktik di Empati Development Center.

Dalam menjadikan anak yang cerdas, harus diketahui terlebih dahulu apa itu kecerdasan. Vera menjelaskan, kecerdasan tak sebatas kecerdasan di sekolah yang terukur dari kemampuan anak dalam belajar membaca, berhitung, atau menggambar.

“Namun, lebih dari itu. Kecerdasan adalah kemampuan berpikir pada tingkatan yang lebih tinggi, yang mencakup pembentukan konsep, pemecahan masalah, kreativitas, memori, persepsi, dan masih banyak lagi,” paparnya.

Ada sejumlah kemampuan kognitif atau kemampuan berpikir yang menggambarkan kecerdasan. Antara lain kemampuan untuk mengelompokkan pola, kemampuan memodifikasi perilaku agar lebih adaptif,kemampuan melakukan penalaran deduktif, kemampuan melakukan penalaran induktif, kemampuan mengembangkan konsep, dan kemampuan untuk memahami atau melihat keterkaitan pada sejumlah informasi.

Salah satu kemampuan yang sangat dikenal adalah kemampuan melakukan penalaran berpikir secaramatematis, seperti yang dimiliki Albert Einstein. Kecerdasan pada area ini dipercaya dapat mewakili kecerdasan pada area yang lain. Mengembangkan kecerdasan dalam melakukan kemampuan berpikir logis akan meningkatkan kecerdasan anak secara umum.

Meskipun sesungguhnya orangtua dapat mengembangkan berbagai kemampuan logika berpikir yang lain pada anak. Misalnya, logika berpikir dalam menganalisis masalah dalam sebuah cerita, dalam sebuah gambar atau balok,dalam sebuah gerakan tari atau senam, dalam sebuah irama lagu, dan masih banyak lagi.

“Kecerdasan merupakan kemampuan berpikir yang lebih advance. Untuk dapat meningkatkan kecerdasan anak, ayah pun perlu turut belajar memahami tahap perkembangan kemampuan berpikir pada setiap tahap usia anak,” sebut psikolog yang berpraktik di Rumah Sakit Cengkareng, Jakarta Barat.

Selami kemampuan, apa yang sedang berkembang pada anaknya di usia tertentu. Dengan begitu, ayah dapat menentukan permainan dan kegiatan seperti apa yang dapat merangsang perkembangan kemampuan berpikir anak agar kecerdasannya tumbuh optimal.


Peranan Ibu Dalam Mendidik Anak

Di belakang tokoh yang agung pasti ada wanita yang agung di belakang orang-orang yang mulia pasti ada wanita yang mulia, Setidaknya itu lah yang juga pernah terjadi pada masa Rasulullah. Disamping beliau ada ibunya yang begitu taat, Khadijah istri beliau yang setia mendampingi beliau dalam suka dan duka. Setelah istri beliau wafat ada anak beliau fatimah yang mendampingi setelah kemudian ada Aisyah yang tidak bisa kita abaikan pengorbanannya.

Rasulullah adalah pemimpin dunia yang merubah peradaban dunia, orang yang begitu disegani oleh musuhnya dan begitu disayangi oleh sahabat dan sanak keluarga beliau. Kepribadiannya sangat sempurna, tak anak manusia yang tak mengagumi Rasulullah setelah mengenal kepribadiaanya.

Diantara begitu banyak kelebihan yang beliau miliki, kita mengakui bahwa itu adalah kuasa Allah yang dianugerahkan kepada kekasih-Nya. Namun selain itu ada peranan perempuan-perempuan tangguh yang mendukung dan membimbing beliau, ini sangat mempengaruhi kepribadian rasulullah.

Seorang wanita bermahkota ibu,menggenggam jari-jari kecil ikatan ini tidak akan terurai karena tautan ini tautan darah dan aqidah dan rahmat dari Allah. Seorang ibu mempengaruhi hidup anaknya, ialah sekolah dasar yang ditempuh anak dalam kehidupannya. Dari rahim ibu yang shalehahlah akan lahir seorang anak yang yang shaleh hingga kelak akan menjadi ulama besar agama ini.

Ibu mempunyai peranan yang sangat penting dalam pembinaan anak, jika ibundanya salh langkah maka tak ada yang bisa diharapkan dari anak. Ada beberapa fakta salh mendidik anak dalam kehidupan kita sehari-hari diantaranya :

— Mengajari anak berbicara lantang terhadap orang lain tanpa difikirkan dan dipertimbangkan lebih dahulu

— Membiasakan mereka dengan sifat pengecut, penakut, keluh kesah dan kepanikan

— Membiasakan mereka hidup mewah, glamor, dan memberikan segala apa yang dia minta

— Bersikap keras dan kasar kepada anak melebihi batas kewajaran atau sebaliknya terlalu lembut di luar batas kewajaran

— Terlalu pelit kepada anak

— Tehalangnya anak untuk mendapatkan belaian kasih sayang

— Terlalu berbaik sangka terhadap anak atau sebaliknya

— Pilih kasih

— Tidak segera menikahkan anak-anaknya walaupun sudah waktunya

Masih banyak lagi hal-hal yang menyebabkan anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang tak sesuai dengan Alquran dan sunnah rasul kita. Sudah selayaknya kita sebagai ibu atau calon ibu untuk menata diri dan membuat perubahan terhadap diri kita dalam hal mendidik anak, agar kelak anak-anak kita menjadi pembela agama ini dan menjadi kekasih Rabbnya.

Diantara upaya mendidik anak berikut ini ada bebrapa tips usaha yang dapat dilakukan oleh seorang ibu dalam upaya mengusahakan yang terbaik untuk si buah hatinya kelak.

— Mencari istri shalehah/ suami shalih

— Berdo’a kepada Allah agar dikaruniakan anak yang shalih

— Senang/ridha menerima takdir Allah bila dikaruniakan putra/putri

— Memohon kepada Allah agar bisa mendidik anak

— Berdo’a untuk kebaikan anak

— Menamai mereka dengan nama yang baik

— Menanamkan nilai-nilai kebenaran dan akidah yang benar ke dalam jiwa anak (lihat pesan Luqman kepada anaknya)

— Menanamkan sifat-sifat terpuji dan akhlak yang mulia serta menjauhkan dari akhlak tercela

— Membiasakan sikap ihtiram/ikram kepada orang tua

Dan di sini tak hanya ibu yang berperan penting tetapi ayah juga mempunyai andil dal hal pendidikan anak...”Karena sesungguhnya setiap anak lahir dalam keadaan fitrah,ayah dan ibunya lah yang memajusi atau mengkafirkannya.

Semoga bermanfaat bagi kita semua, ini hanya lah sebagian kecil hasil dari seminar bersama Ummmu Shadiq yang memotivasi setiap jiwa ibu dan calon ibu untuk kelak menjadi dan dapat melahirkan ulama-ulama besar yang mengembalikan kejayaan islam pada masa lalu


April 15, 2010

keluh kesah sianak semata wayang

banyak orang bilang menjadi anak semata wayang itu enak, apa-apa terkabulkan ketika kita jajan hanya untuk diri kita sendiri, kasih sayang orang tua tak ada yang menyaingi hanya untuk kita sendiri,permintaan kita pasti terwujud. aq dulu juga mempunyai pikiran yang serupa namun setelah aku jalani ternyata menjadi anak semata wayang itu disisi laen ada enaknya tapi disisi yang lain juga ada rasa tak enak, sepi dan tak ada teman tuk saling cerita dan saling bertukar pendapat, dikala kita mendapatkan masalah kita tak punya tempat mengadu selain pada orangtua, dikala kita sedih kita tak punya teman untuk menghibur kita, dikala kita menangis tak ada yang mengayomi kita hanya orang tualah yang terus menjadi penyemangat dalam hidup kita, coba kita bandingkan pada orang yang mempunyai saudara walaupun cuma satu saudara diantara mereka saling tertawa bersama, menyelaikan masalah bersama,saling mengayomi
ketika salah satu dari mereka ada yang bersedih, dan yang paling indah ketika kedua orang tua kita sudah renta dan lanjut usia mereka bersama-sama merawatnya sampai ajal menjemput orang tua mereka,tapi lain halnya dengan anak yang hanya ditakdirkan untuk terlahir sebagai anak semata wayang kitika orang tua mereka renta dan sakit-sakitan mereka hanya bisa merawatnya dengan diri mereka sendiri tak ada yang membantu mereka, mereka harus terlunta lunta dalam mencari biaya untuk berobat kedua orang tuanya, mereka tak ada yang bisa memberikan semangat dalam kehidupan mereka, tak ada yang bisa menjadi penghibur hati mereka yang sedih, dan tak ada tempat untuk mereka bersandar dikala mereka butuh tempat tempat bersandar dan mereka juga tak mempunyai tempat untuk menceritakan hiruk pikuk kehidupan mereka.mereka hanya dapat memikul masalah mereka sendiri tak ada yang peduli dengan diri mereka kecuali kedua orang tua mereka, saat aku sangat mengimpikan bisa mempunyai seorang kakak yang sayang sama aq dan kedua orang tua, bisa menghiburku dikala aq sedang sedih dan terluka, bisa menyelesaikan masalah yang sedang aku hadapi dan menjadi tumpahan segala duka lara yang terjadi pada diriku...namun semua itu hnyalah impian belaka yang tak akan pernah terwujud dalam hidupku,,,,,,aku tak pernah memilih untuk terlahir sebagai anak semata wayang,namun yang kuasa telah mengatur semuanya,,,,,,konon kata buyut-buyutku, aku dulu hampir meninggal gara-gara penyakit yang aku derita,,,namun syukur alhamdulillah aku masih diberi kesempatan untuk melihat dan menikmati kehidupan didunia ini,,,,dan masih bisa merasakan betapa besar kasih sayang org tuaq yang diberika hanya untukq,,,,namun sekarang aku belum bisa membalas kasih sayang mereka yang selama ini mereka berikan kepadaku....tuhan jangan engkau biarkan aku mati sebelum aku sempat membahagiakan mereka,,,,jangan biarkan aku putus asa untuk terus selalu berusaha membuat bangga kedua orang tuaku,,,tak akan ku biarkan mereka meneteskan air mata mereka didepan mataku,,,tak akan aku biarkan mereka disakiti oleh orang-orang yang tak bertanggungjawab atasa perbuatan mereka ,,,,,tak akan kubiarkan mereka bersedih karenaku,,,,,,aq rela mengorbankan kebahagianku demi kebahagian kedua orang tuaq sampai titik kehidupanku aku akan selalu berjuang dan terus berjuang untuk membela kedua orang tuaq,,,dan akan membela mereka selagi mereka dalam jalan yang benar.
ayah....bunda maafkanlah anakmu ini yang belum bisa membuat kalian berdua tersenyum dan bahagia.......salam sayang dan kecupan manis dariku untuk ayah dan bundaku tersayang.....ANAZDIKA AJA
menurut kalian semua mana lebih nyaman mempunyai saudara dan menjadi anak semata wayang.....?
masih banyak hal yang ingin aku tulis dala catatanku ini namun rasa bosan dari kacau membuat aku harus mengakhirinya......


April 13, 2010

Pelajaran Cinta dari Bilqis

JAKARTA, KOMPAS.com — Bilqis Anindya Passa tidak pernah memilih untuk dilahirkan dengan atau tanpa atresia billier. Namun, toh, ia ditakdirkan hidup sekejap untuk berdampingan dengan penyakit kelainan hati itu. Selama 19 bulan menyongsong dunia, Bilqis tak bisa menikmati hidup layaknya anak balita seusianya.

Putri pasangan Dewi Farida dan Donny Ardianta Passa itu menderita penyakit yang timbul akibat rusaknya saluran empedu di luar hati sehingga tidak ada aliran empedu dari hati ke dalam usus 12 jari yang normalnya terjadi. Kelainan itu membuat hati Bilqis rusak. Untuk mengatasinya, Bilqis harus menjalani transplantasi hati.

Kehadiran Bilqis telah memberi pelajaran tentang cinta sekaligus pengorbanan kepada seluruh masyarakat di Tanah Air. Pemberitaan tentangnya telah sekejap menggugah hati nurani penderma untuk berpaling dari isu-isu pertikaian politik.

Balita 19 bulan itu mampu menyedot perhatian hampir seluruh masyarakat di Tanah Air. Ketegarannya menghadapi penyakit menggugah hati para dermawan di Tanah Air. Melalui penggalangan dana Koin Cinta Bilqis, dana lebih dari Rp1,1 miliar berhasil dikumpulkan.

"Luar biasa", Bilqis adalah anak yang hebat. Dia bisa mengumpulkan banyak uang melalui Koin Cinta Bilqis. Kami tidak menyangka anak ini dilahirkan untuk mendapat perhatian banyak orang seperti ini," kata ayah Bilqis, Donny.

Semula dana sebanyak itu akan digunakan untuk operasi cangkok hati demi impian sembuh bagi Bilqis. Meski awalnya seluruh rangkaian operasi transplantasi hati tersebut memerlukan biaya yang tinggi, toh bantuan dermawan terus saja mengalir.

Secercah harapan memang sempat timbul, tetapi kembali tenggelam saat paru-paru Bilqis terserang bakteri ganas dan mematikan. Bayi yang lahir 20 Agustus 2008 itu pada akhirnya harus menyerah pada atresia billier yang telah menyertainya sejak lahir.

Bilqis Anindya Passa meninggal pada 10 April 2010 pukul 15.15 di RS Karyadi, Semarang, Jawa Tengah, akibat gagal napas dalam proses yang harus ia jalani sebelum operasi cangkok hati.

Inspirasi

Bilqis adalah inspirasi bagi banyak orang. Ngabdu Salam (33) dan Ani Purwaningsih adalah dua di antaranya. Pasangan suami istri itu memiliki bayi bernama Abdullah Ichsanul Fikri yang serupa nasibnya dengan Bilqis.

"Fikri juga akhirnya meninggal pada 20 Februari 2010 karena atresia billier," kata Ngabdu yang ditemui setelah pemakaman Bilqis di TPU Kawi-kawi, Jakarta Pusat. Fikri, nama panggilan Abdullah Ichsanul Fikri, meninggal dunia saat masih menjalani perawatan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

Berkat Bilqis, kata dia, keluarganya memiliki harapan melalui pengumpulan koin cinta untuk pengobatan Fikri meski pada akhirnya anaknya meninggal akibat pembuluh darah yang pecah pada 20 Februari 2010. "Bilqis telah memberikan pelajaran kepada kita untuk beramal dan membuka ladang bagi para donatur di seluruh Indonesia," katanya.

Fikri sendiri melalui upaya penggalangan dana koin cinta mampu mengumpulkan dana Rp 38 juta dalam waktu dua pekan. Baik Fikri maupun Bilqis, baginya telah memberikan pelajaran yang sangat berharga. Keduanya adalah amanah cinta dari Tuhan yang harus dimaknai kehadirannya meski sesaat. "Saya sudah menunggu dia (Fikri) lahir selama delapan tahun usia pernikahan kami," katanya.

Namun, kehadiran Fikri ditetapkan hanya sesaat, tak sampai dua tahun amanah itu kembali "pergi". "Banyak sekali hikmahnya, bahkan ada donatur yang akan memberangkatkan saya dan istri untuk umrah," katanya.

Bilqis dan Fikri dengan kelainan atresia bilier tidaklah sendirian. Data dua tahun di RSCM menunjukkan, ada 164 bayi dengan kelainan hati yang disebut kolestasis, 23 persen di antaranya adalah atresia bilier. Karena itulah, baik keluarga Bilqis maupun Fikri akan terus berjuang.

"Ada banyak bilqis-bilqis lain yang memerlukan perhatian kita. Keluarga kami telah sepakat untuk mendirikan yayasan yang khusus menangani penderita atresia bilier," kata koordinator Koin Cinta Bilqis, Fahrur Djenar.

Fahrur yang juga paman Bilqis itu bersama semua keluarga menyatakan tidak akan berhenti berjuang bagi bilqis-bilqis yang lain di Indonesia sebab terlampau mudah untuk mengeja kata sayang untuk Bilqis. Selamat jalan Bilqis, selamat jalan Fikri.


April 10, 2010

Filsafat Deregulasi

KETIKA harga minyak mulai rontok di tahun 1982, rezim Orde Baru berangsur-angsur kehilangan otonomi fiskal. Sejak itu gerak ekonomi-politik Indonesia mencari motor baru dalam rupa bisnis swasta dengan deregulasi sebagai instrumen utama. Era deregulasi mulai di tahun 1983 mencakup keuangan, pajak, tarif, bea cukai, perdagangan, investasi, pasar modal, perbankan, komunikasi, dan sebagainya.

Apakah deregulasi baik atau buruk? Ada baiknya ditangguhkan dulu debat pro dan kontra. Namun, sebagai uji coba, baiklah mulai dari posisi pro: deregulasi secara keseluruhan (dan bukan selektif) merupakan sesuatu yang sangat baik adanya.

Bila diringkas, deregulasi menunjuk ke- bijakan pemerintah mengurangi/meniadakan aturan administratif yang mengekang kebebasan gerak modal, barang, dan jasa. Dengan kebebasan gerak produksi, distribusi, dan konsumsi modal, barang, serta jasa itu, volume kegiatan bisnis swasta diharapkan melonjak. Dengan itu lanskap ekonomi Indonesia juga tidak lagi bergantung pada uang minyak.

Deregulasi telah menjadi istilah teknis ekonomi dan populer karena alasan ekonomi. Akan tetapi, penciutan istilah "deregulasi" ke bidang ekonomi itu sangat menyesatkan. Deregulasi pertama-tama bukan gagasan ekonomi, tetapi premis baru ketatanegaraan.

Premis baru

Isi premis baru ketatanegaraan itu mungkin bisa ditunjuk dengan dua lapis argumen berikut. Lapis pertama, deregulasi berisi gagasan bahwa jatuh-bangun dan hidup-matinya suatu negeri tak boleh lagi hanya bergantung pada kekuasaan rezim yang sedang memerintah. Jadi, jatuh-bangun dan hidup-matinya ekonomi, budaya, atau pendidikan di Indonesia tidak boleh lagi hanya bergantung pada inisiatif pemerintah, entah itu rezim Soeharto atau Susilo B Yudhoyono. Itulah mengapa deregulasi melibatkan pemindahan berbagai inisiatif, dari pemerintah ke sektor-sektor nonpemerintah.

Sejak 1 Januari 1984, misalnya, metode "valuasi pemerintah" (official assessment) dalam pengumpulan pajak diganti menjadi "penghitungan diri" (self-assessment). Artinya, penghitungan pajak tidak lagi dimulai oleh petugas pajak, tetapi oleh wajib pajak sendiri, lalu petugas pajak melakukan crosscheck. Tentu perubahan itu ditujukan untuk sasaran ekonomi, seperti efisiensi dan pembatasan kuasa petugas pajak bagi peningkatan revenue dari pajak. Namun, implikasi praktis terhadap urusan fiskal ini hanyalah konsekuensi dari gagasan lebih fundamental tentang deregulasi: bahwa hidup-matinya Indonesia tidak boleh lagi bergantung hanya pada inisiatif dan tindakan aparat pemerintah.

Lapis kedua, justru karena itu deregulasi juga menunjuk gagasan baru bahwa jatuh-bangun dan hidup-matinya kondisi politik, ekonomi, budaya, ataupun pendidikan di Indonesia juga tidak bisa lagi hanya menjadi beban tanggungan pemerintah. Lugasnya, solusi atas masalah Indonesia juga merupakan beban tanggungan sektor-sektor nonpemerintah. Lapis ini sejajar dengan lapis pertama di atas. Andaikan "deregulasi" adalah sekeping mata uang, pokok dalam lapis pertama dan kedua merupakan dua sisi dari satu keping mata uang yang sama.

Dua lapis pengertian di atas mungkin terdengar aneh bagi mereka yang mengartikan deregulasi hanya sebagai soal teknis, seperti pengertian umum dalam alam pikir ekonomi dewasa ini. Namun, dalam "republik refleksi", kita selalu butuh kembali ke prinsip paling sederhana, yang kira-kira berbunyi begini: pengertian luas bukanlah bukti validitas.

Dari pokok-pokok di atas mungkin segera tampak, de-regulasi bukan berarti tidak-adanya regulasi, melainkan perluasan/pemindahan locus otoritas regulasi, yaitu dari state-regulation ke self-regulation. Maka, de-regulasi sesungguhnya berisi re-regulasi, dengan self sebagai aktor-regulator alternatif. Istilah "self" bisa berupa individu perorangan, bisa juga badan usaha bisnis/ perusahaan, dan bisa pula pemerintahan lokal yang otonom.



Regulator alternatif

Apa dasar self bertindak sebagai aktor-regulasi alternatif? Dasarnya adalah self-determination yang terungkap dalam kebebasan dan kedaulatan pilihan individual. Tetapi masih perlu dikejar lanjut. Kalau sumber daya pemerintah melakukan state-regulation adalah mandat, apa sumber daya self-regulation? Jawab: pemilikan/kontrol atas berbagai sumber daya (finansial, teknologis, fisik, informasi, material, dan sebagainya) yang diubah menjadi capital. Itulah mengapa terjadi penerapan istilah "capital" pada bidang-bidang seperti budaya (cf cultural capital), pengetahuan (cf symbolic capital), dan lain-lain.

Dengan itu deregulasi melahirkan gejala baru, yaitu kedaulatan dan kebebasan selera individual menjadi locus kekuatan regulatif baru yang tidak kalah menentukan dibanding kekuatan regulatif pemerintah. Modelnya adalah kinerja "kebebasan pilihan individual" dalam ekonomi pasar-bebas (cf "saya bebas berbuat apa pun menurut selera saya dan selera apa pun yang bisa saya beli"). Dalam arti tertentu bahkan bisa dibilang, pemerintah sering tinggal menjadi penjaga legalitas, tanpa sepenuhnya mampu menjadi regulator.

Ambillah acara di layar televisi sebagai contoh. Sudah lama meluas keluhan tentang rendahnya mutu acara televisi yang dikuasai program gosip, klenik, jingkrak-jingkrak, badut-badutan, serta histeria idola. Pemerintah tidak bisa lagi menjadi regulator acara televisi tanpa dituduh otoriter. Mungkin para programmers acara televisi bilang acara-acara itulah demand pemirsa. Tetapi karena klaim itu tidak ada sebelum programmers menayangkan acara-acara tersebut, dengan lugas bisa dikatakan regulatornya adalah corak selera para programmers televisi. Kemudian muncul apologi, misalnya "bukankah pepatah Romawi pun mengingatkan bahwa manusia tidak hanya membutuhkan roti, tetapi juga komedi?" (Tajuk Kompas, 8/9/2004). Dalih itu menggelikan karena soalnya justru sebagian besar acara televisi berupa "komedi". Tambahan lagi, pepatah itu datang dari kaisar seperti Nero dan Commodus sebagai siasat meninabobokan warga Roma dengan orgi darah di Colosseum.

Sekali lagi, de-regulasi bukan pengha- pusan regulasi, tetapi re-regulasi menurut selera pribadi. Dengan itu kekuatan-regulatif penentu corak kehidupan publik bukan lagi hanya daya-regulatif pemerintah, tetapi juga daya-regulatif kebebasan selera/pilihan individual. Pokok sederhana ini punya implikasi sangat jauh.



Etika deregulasi

Bila deregulasi berisi premis hidup-matinya negeri ini tak boleh lagi tergantung hanya pada pemerintah, tentu itu juga berarti hidup-matinya negeri ini tidak boleh lagi hanya menjadi beban tanggungan pemerintah. Segera tampak deregulasi pertama-tama bukan urusan teknis ekonomi, tetapi etika baru manajemen masyarakat. Dan itu berlaku baik untuk bidang ekonomi, budaya, pendidikan, sosial, maupun politik. Jadi, kita mesti pro atau kontra deregulasi? Dua pokok berikut ini mungkin bertentangan dengan paham tradisional yang luas diyakini, tetapi semoga ada gunanya diajukan.

Pertama, andaikan Anda penentang gigih deregulasi. Posisi kontra ini salah satunya melibatkan penolakan atas pemindahan/perluasan otoritas regulasi dari state-regulation ke self-regulation. Anda mungkin dituduh mendukung otoritarianisme, tetapi tuduhan itu bisa diabaikan. Salah satu agenda pokok penganut posisi kontra deregulasi lalu adalah memastikan agar gerakan civil society mengoreksi dan memberdayakan kapasitas pemerintah sebagai badan regulator yang baik karena pemerintah dilihat sebagai satu-satunya penanggung jawab hidup-matinya negeri ini. Tetapi, agenda ini tidak lebih dari meneruskan teriakan-teriakan kita selama ini dan deregulasi lalu juga kehilangan arti.

Kedua, andaikan Anda penuntut gigih deregulasi. Posisi pro ini berisi kesetujuan atas pemindahan/perluasan otoritas regulasi dari state-regulation ke self-regulation. Implikasi utamanya, civil society tidak-bisa-tidak berfokus pada gerakan memastikan agar sektor-sektor nonpemerintah juga menjadi aktor-regulator yang baik karena self-regulation berarti pemerintah bukan lagi satu-satunya penanggung jawab hidup-matinya negeri ini. Lugasnya, persis dari logika-internal deregulasi, sektor-sektor nonpemerintah itu kini juga tidak-bisa-tidak menjadi penanggung jawab hidup-matinya negeri ini. Itu berlaku baik bagi sektor bisnis, media, maupun perguruan tinggi, dari soal acara televisi, rusaknya gedung sekolah, busung lapar, sampai keluasan korupsi.

Apa yang terjadi bila sektor-sektor nonpemerintah menuntut deregulasi seluasnya, tetapi membebankan semua hanya kepada pemerintah dan juga tidak mau ikut menjadi solusi atas labirin masalah Indonesia? Itulah yang rupanya sedang terjadi. Deregulasi lalu tidak lebih dari siasat para pelaku sektor-sektor nonpemerintah untuk menjadi free riders di negeri ini. Free rider kira-kira berarti "penumpang yang tidak membayar". Maka tidak perlu kaget bila para programmers televisi merasa tidak punya urusan dengan pendidikan kultural warga Indonesia. Tak mengherankan pula bila para bos perusahaan tambang merasa tidak punya urusan dengan kehancuran lingkungan seperti di Pantai Buyat.

Kita bisa meratapi atau merayakan deregulasi, tetapi itu masih jauh dari memahami bahwa deregulasi melibatkan agenda ketatanegaraan yang lebih mendalam daripada sekadar perkara efisiensi ekonomi.


Sumber: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0506/01/opini/1789156.htm


Jalan Alami Menjadi Ibu Ideal

Perhiasan sejati bagi perempuan adalah watak dan kemurniannya. (Mohandas K. Gandhi) Adakah sosok ibu ideal di
dunia ini? Ibu ideal dalam arti, ibu yang sempurna tanpa kekurangan sedikit pun, jawabannya pasti tak ada. Tapi ibu
ideal dalam arti ”proses”, jawabannya pasti ada.
Seorang ibu yang selalu menyempurnakan diri, memperbaiki diri, mengubah diri, dan terus berusaha menambah nilai
plus dalam peranannya untuk diri, keluarga dan masyarakatnya, sesuai keadaannya, adalah sosok ibu yang ideal. Meski
dalam hidup ini ada perbedaan status sosial, ekonomi, intelektual, bahkan masalah yang dihadapi, tapi percayalah,
setiap ibu memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi ibu ideal. Jangan pesimis. Lalu apa yang perlu dilakukan?
Ketidakpuasan untuk Kebaikan Syarat untuk menjadi orang yang selalu menyempurnakan-diri adalah mampu
menggunakan ketidakpuasan untuk kebaikan. Bagi Yuni (35), setelah gaji suaminya dirasa tak lagi ideal untuk
mencukupi kebutuhan rumah tangganya, ditambah lagi rapor anaknya yang menurun, semua itu ia dijadikan dorongan
untuk menciptakan penghasilan tambahan plus lebih peduli lagi terhadap prestasi anaknya yang selama ini ia cuekin.
Semua manusia pasti punya perasaan tidak puas. Bedanya, ada yang menggunakannya untuk kejelekan, ada yang
untuk kebaikan. Kalau kita merasa tidak puas dengan ekonomi keluarga kita saat ini, tapi reaksi kita lebih sering kecewa,
ngamuk, dan masa bodoh dengan prestasi anak, pasti ketidakpuasan itu akan mengantarkan kita pada keburukan.
Padahal, kita punya kesempatan untuk menggunakannya sebagai dorongan ke arah yang baik. Gunakan ketidakpuasan
Anda terhadap anak untuk lebih banyak peduli, lebih banyak berdoa, lebih banyak belajar, dan seterusnya. Pasti
hasilnya akan lebih bagus. Berkomunikasilah dengan Diri Seperti diakui Rita (40), banyak perempuan yang
memahami pernikahan sebagai akhir dari proses pengembangan-diri. Alasannya klasik: “Waktu saya habis untuk
mengurus suami dan anak-anak”. Padahal, jika sikap itu terus dilakukan, sama saja artinya dengan “bunuh
diri”. Kenapa? Jika seseorang tidak mengembangkan dirinya, dengan alasan apa pun, pasti tidak bisa
mengembangkan anaknya dan tidak bisa mengikuti perkembangan suaminya. Yang lebih berbahaya lagi, jiwanya tidak
berubah ke arah yang lebih baik dalam menghadapi persoalan hidup yang terus berubah. Karena itu, bagi Rita yang
tidak bekerja di luar rumah, ia tetap memelihara kebiasaan membaca buku yang bermanfaat, mengikuti pengajian atau
seminar, mengajak ibu-ibu lain mengadakan kegiatan sosial, dan mengurusi amanat suami yang diserahkan kepadanya.
Yang tidak ia lupakan adalah berkomunikasi dengan diri, berdialog dengan diri, memikirkan apa saja yang bisa dilakukan
untuk kebaikan dirinya, keluarga, dan lingkungannya. Tingkatkan Kontrol-Diri Ketika Nabi ditanya oleh seorang
perempuan cerdas soal kenapa yang beliau lihat di neraka kebanyakan perempuan, Nabi menjawab bahwa ada dua


sebabnya. Pertama, karena kurang mensyukuri jasa suami (mengingkari atau menuntut melebihi batas optimal sehingga
suaminya nekat melakukan pekerjaan menyimpang), dan kedua, karena terlalu mudah melaknat (HR. Muslim). Supaya
kita tidak termasuk kelompok yang disebut Nabi itu, syaratnya adalah meningkatkan kemampuan mengontrol-diri.
Kemampuan ini adalah kunci agar kita terhindar dari berbagai kenekatan atau mudah melaknat. Untuk mengukur sejauh
mana kemampuan kita di sini, mari kita lihat boks di bawah ini: Skala Kontrol-Diri kala Penjelasan

1. 1Anda mudah kehilangan kendali, mudah frustrasi, mudah meluapkan ekspresi emosi secara meledak-ledak
2. sehingga kehilangan kendali.
3. 2 Anda tahan terhadap berbagai tekanan atau godaan.
4. 3 Anda
5. sudah bisa mengontrol emosi, tapi belum bisa menggunakannya secara konstruktif, misalnya lebih memilih diam.
6. 4 Anda sudah sanggup memberikan respons dengan tenang dan mendiskusikan persoalan secara fair dan
7. terbuka.
8. 5 Anda sudah bisa mengelola tekanan secara efektif, tidak memengaruhi hasil dan proses
9. pekerjaan, serta pengasuhan.
10. 6 Anda bisa memberikan respons secara konstruktif, yaitu bisa membangun
11. dengan lebih positif dan mengantisipasi problem.
12. 7 Anda sudah bisa menenangkan diri Anda dan orang

lain, atau sanggup memainkan peranan sebagai teladan (ummun dan imaamun). *) Diolah dari Competence At
Work, Models for Superior Performance, 1993. Berdialoglah Hindari Debat Ibu Lara, psikolog dari Universitas Islam
Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, menyesal setelah memenangkan perdebatan dengan anaknya. Si anak yang
kalah debat akhirnya masuk ke kamar dan tidur. Melihat anaknya yang tidur pulas itu, ia menyesali kenapa tadi
berdebat. Lebih-lebih setelah si anak bangun, ia mengetuk pintu kamar ibunya untuk meminta maaf. “Bercampur
baur deh rasanya,” akunya dalam sebuah talk show. Dalam mengasuh anak atau berinteraksi dengan suami,
sering kali kita sulit menghindari perdebatan. Meski begitu, jangan sampai kebablasan atau selalu berdebat. Debat di sini
adalah mempertahankan kebenaran-sendiri melawan kebenaran-sendiri milik anak atau suami. Yang perlu kita lakukan
adalah menumbuhkan kesadaran untuk membuka dialog, dimulai dari kita dulu. Kalau kita belum mampu langsung
berdialog, hendaknya kita mengerem perdebatan yang bakal berkepanjangan. Bangunlah Hubungan Positif
Menyikapi maraknya aksi kekejaman yang dilakukan ibu terhadap anaknya, Elly Risman berpendapat pentingnya
menghidupkan jalinan sosial yang saling memperkuat di masyarakat kita. Jalinan sosial ini bisa kita bentuk, baik dalam
lingkungan keluarga besar maupun lingkungan sekitar. Hal ini penting, sebab kalau kita punya masalah lalu kita
kembangkan berbagai pendapat negatif atas masalah itu, maka setan pun akan mudah memasuki jiwa kita. Namun
kalau kita mau bertukar pendapat dan pengalaman, pasti akan ada pandangan yang lebih mencerahkan. Jalinan sosial
juga menjadi kontrol sosial. Peranan Pemerintah dan Suami Meski di dunia profesional perempuan sering
dinomersatukan, tapi secara kultural, perempuan sering dinomerduakan. Sampai-sampai banyak yang berpendapat,
“Biar dikata bagaimanapun, perempuan mah tetap tak bisa ngalahin laki-laki.” Sebagian perempuan
memprotes kultur ini dengan cara negatif, tapi sebagian lagi menggunakan cara positif. Agar kultur itu tidak sampai
merusak peradaban, peranan pemerintah sangat dibutuhkan di sini. Pemerintah bisa berperan dengan menegakkan
hukuman yang setimpal bagi sebagian laki-laki yang menggunakan kultur itu sebagai alat melegitimasi kesewenangwenangannya.
Tapi, tentu mengharapkan peranan pemerintah saja masih jauh dari cukup. Justru yang paling
dibutuhkan adalah perubahan kesadaran suami untuk meninggikan derajat para istri dan menghormati peranan dan
perasaannya. Seorang kiai yang sangat menghormati istrinya, mengatakan, hanya laki-laki yang terhormat yang bisa
Majalah Edukasia
http://edukasia.com Powered by Joomla! Generated: 10 April, 2010, 08:20
menghormati istrinya. AN. Ubaedy dan Luqman Hakim Arifin Kutipan: Hadiah terbaik untuk: Teman
Anda—setia kawan Musuh Anda—maaf Atasan Anda—jasa Anak Anda—teladan yang
baik Orangtua Anda—rasa terima kasih dan bakti pasangan Anda—cinta dan kesetiaan
(A.Bhuwanapralaya)
Majalah Edukasia
http://edukasia.com Powered by Joomla! Generated: 10 April, 2010, 08:20