Juni 13, 2011

Kerukunan Beragama Dalam Keberagaman Agama di Indonesia

Berbicara kerukunan antar umat beragama dalam keberagaman agama di indonesia merupakan pembahasan yang unik dan menarik untuk di cernak, dinikmati kemudian terus ditingkatkan serta dipertahankan dalam praktek kehidupan sehari-hari. Bukti ini merupakan kekayaan bangsa indonesia yang tidak tebantahkan dan tidak ditemukan pada bangsa-banga yang lain. Kenapa hal tersebut bisa terjadi?, Fakta mengatakan dari sekian agama di indonesia ternyata kerukunan sudah menjadi idiologi dalam ajaran masing-masing agama, kedamaian hidup bersama dan saling menghormati adalah benang merah dan titik temu sehingga berapapun kelompok dan budayanya, yang ada adalah kerukunan beragama. Berikut akan dijelaskan secara rinci dan lugas idiologi setiap masing-masing agama;

a. Menurut Faham Islam

Islam memandang sebuah perbedaan sebagai sebuah berkah dan rahmat. Hal ini sesuai dengan sabda nabi "perbedaan di kalangan umatku adalah suatu berkah". Dengan demikian Islam tidaklah merisaukan adanya berbagai macam agama yang terdapat di lingkungan sekitarnya, mereka justru menganggapnya sebagai suatu fitrah dari Allah. Adanya langit dan bumi beserta isinya yang diciptakan berpasang-pasangan sudah bisa dijadikan bukti kuat bahwa Allah sendiri memang menghendaki adanya perbedaan itu. Kita sebagai manusia hanyalah ditugaskan untuk menjalani hidup ini sesuai dengan tugas kita yaitu sebagai khalifah fi-al ardh.
Munculnya berbagai macam agama di sekitar kita merupakan salah satu dari fitrah tersebut. Kita umat Islam memang harus selalu waspada terhadap masalah- masalah keagamaan yang terjadi.
Agama-agama yang ada di dunia ini semata-mata bukanlah hasil pemikiran umat manusia; dan sebabnya adalah banyak. Agama-agama yang merata di dunia ini mempunyai ciri-ciri yang khas, yaitu sebagai berikut:
 Pertama, menurut ukuran yang biasa, maka pembawa agama adalah orang-orang biasa. Mereka tidak mempunyai kekuatan dan kekuasaan yang tinggi.

Sungguhpun demikian, mereka berani memberikan ajaran, baik kepada orang-orang besar maupun orang-orang kecil; dan dalam waktu yang tertentu mereka dengan pengikut-pengikutnya mengikat dari kedudukan yang rendah sampai kepada kedudukan yang tinggi. Ia membuktikan bahwa mereka ini dibantu oleh Kekuasaan Yang Maha Agung.
 Kedua, semua pembawa agama itu adalah orang-orang yang sejak sebelum jadi Nabi dihargai dan dinilai tinggi oleh mesyarakatnya karena ketinggian budi pekertinya, sekalipun oleh orang-orang yang kemudian hari menjadi musuhnya, setelah mereka itu menyatakan tentang kenabiannya.

Oleh karena itu, tidak masuk akal sama sekali, bahwa mereka yang tidak pernah dusta terhadap manusia, dengan serta merta berdusta terhadap Tuhannya. Pengakuan yang universal tentang kesucian dari kehidupannya, sebelum mereka itu menyiarkan agama yang mereka bawa, adalah suatu bukti tentang kebenaran pengakuan mereka. Al-qur'an telah menekankan hal ini dengan menyatakan:

قل لو شاء الله ما تلوته عليكم ولا ادراكم به فقد لبئت فيكم عمرا من قبله افلا نعقلون (يونوس : 16)

Artinya:
"Katakanlah: "Jikalau Allah menghendaki, niscaya aku tidak akan membacakannya kepadamu dan tidak (pula) Allah memberitahukannya kepadamu. Sesungguhnya aku telah tinggal bersamamu beberapa lama sebelumnya. Apakah kamu tidak memikirkannya?"
Ayat ini berarti bahwa Nabi Muhammad saw, menyatakan kepada mereka bahwa ia telah lama hidup bersama-sama dengan mereka, an mereka mempunyai kesempatan yang cukup panjang untuk mengamat-amati dia. Juga mereka telah menjadi saksi tentang kejujurannya. Maka bagaimanakah mereka dapat berkata bahwa Nabi Muhammad saw, pada waktu itu berani berdusta terhadap Tuhannya!
 Ketiga, bahwa pembawa agama itu tidak mempunyai kekuatan dan alat-alat yang pada umumnya dapat dikatakan menjamin suksesnya pimpinannya. Umumnya mereka sedikit sekali mengetahui tentang seni atau kebudayaan pada masanya.

Sungguhpun demikian, apa yang mereka ajarkan adalah sesuatu yang lebih maju dari sesuatu yang ada pada masa itu; tidak sama dengan apa yang berlaku pada masanya. Hanya pembawa agama yang benar sajalah yang dapat berbuat demikian itu. Oleh karena itu adalah mustahil bahwa orang yang tidak mengeti sama sekali tentang peradaban, kemajuan yang terdapat paa waktunya, setelah berbuat dusta kepada Tuhannya, akan mempunyai kekuatan yang luar biasa, hingga ajarannya itu dapat mengalahkan ajaran-ajaran yang ada pada waktu itu. Kemenangan yang demikian itu adalah mustahil tanpa adanya bantuan dari Tuhan Yang Maha Kuasa.
 Keempat, apabila diperhatikan, ajaran-ajaran yang dibawa oleh pembawa agama itu, maka dapat diketahui bahwa ajaran-ajaran nya selalu bertentangan dengan pikiran yang hidup pada waktu itu. Apabila ternyata ajaran-ajaran tersebut mempunyai kesamaan dengan pikiran yang sedang berkembang pada masanya, maka apa yang diajarkan itu adalah merupakan pernyataan ari pikiran-pikiran yang muncul pada waktu itu saja.

Demikianlah dalam al-qur'an dijelaskan dengan tuntas bagaimana sebenarnya agama itu diturunkan dan dengan melalui perantara yang seperti apa, hal tersebut sudah demikian jelasnya. Oleh karena itu kita tidak diperbolehkan untuk menghina agama lain, dan menganggap agama kita yang paling benar di dunia ini.
Dalam hubungan antara Akidah/Ibadah dan mu'amalah, Nabi Muhammad saw. Telah menunjukkan contoh, bahwa beliau bergaul dengan orang-orang Yahudi dan Nasrani, menghadiri pesta-pesta perkawinan mereka, menengok orang sakit, menjenguk orang yang mendapat musibah kematian, dll. Tapi ketika sampai kepada satu tingkat yang bisa menyinggung soal akidah dan Ibadah itu, maka beliau berpegang kepada wahyu Allah yang menggariskan:
قل يا يهاالكفرون, لااعبدماتعبدون, ولاانتم عبدون ما اعبد, ولا انا عابدماعبدتم, ولاانتم عبدون ما اعبد, لكم دينكم ولي دين (الكا فرون : (1-6)
Artinya:
"Katakanlah hai orang-orang Kafir! Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah. Untukmulah agamamu, dan untukkulah agamaku."
Tafsir :
 Ayat 1-2: Telah diriwayatkan bahwa Walid bin Mughirah, 'As bin Wail As Sahmi, Aswad bin Abdul Muththalib dan Umaiyah bin Khalaf bersama rombongan pembesar-pembear Quraisy datang menemui Nabi saw, menyatakan,
"Hai Muhammad! Marilah engkau mengikuti agama kami dan kami mengikuti agamamu dan engkau bersama kami dalam semua masalah yang kami hadapi, engkau menyembah Tuhan kami setahun dan kami menyembah Tuhanmu setahun. Jika agama yang engkau bawa itu benar, maka kami berada bersamamu dan mendapat bagian darinya, dan jika ajaran yang ada pada kami itu benar, maka engkau telah bersekutu pula bersama-sama kami dan engkau akan mendapat bagian pula darinya". Beliau menjawab, "Aku berlindung kepada Allah dari mempersekutukan-Nya".
Dalam ayat-ayat ini Allah memerintahkan Nabi-Nya agar menyatakan kepada orang-orang kafir, bahwa "Tuhan" yang kamu sembah bukanlah "Tuhan" yang saya sembah, karena kamu menyembah "Tuhan" yang memerlukan pembantu dan mempunyai anak atau ia menjelma dalam sesuatu bentuk atau dalam sesuatu rupa atau bentuk-bentuk lain yang kau dakwakan.
 Ayat 3: dalam ayat ini Allah menambahkan lagi pernyataan yang disuruh sampaikan kepada orang-orang kafir dengan menyatakan. "Kamu tidak menyembah Tuhanku yang aku panggil kamu untuk menyembah-Nya, karena berlainan sifat-sifat-Nya dari sifat "Tuhan" yang kamu sembah dan tidak mungkin dipertemukan antara kedua macam sifat tersebut.
 Ayat 4-5: Kemudian sesudah Allah menyatakan tentang tidak mungkin ada persamaan sifat antara Tuhan yang disembah oleh Nabi aw. Dengan yang disembah oleh mereka, maka dengan sendirinya tidak ada pula persamaan tentang ibadah. Mereka menganggap bahwa ibadah yang mereka lakukan di hadapan berhala-berhala atau di tempat-tempat beribadah lainnya, bahwa ibadah itu dilakukan secara ikhlas karena Allah, sedangkan Nabi tidak melebihi mereka sedikitpun dalam hal itu, maka dalam ayat-ayat ini Allah memerintahkan Nabi-Nya agar menjelaskan bahwa, "Saya tidak beribadah sebagaimana ibadahmu dan kamu tidak beribadah sebagaimana ibadahku". Ini adalah pendapat Abu Muslim Al-Asfahani.
 Ayat 6: Kemudian dalam ayat ini Allah mengancam orang-orang kafir dengan firman-Nya, "Bagi kamu balasan atas amal perbuatanmu dan bagiku balaan atas amal perbuatanku".
Dalam ayat lain yang sama maksudnya Allah berfirman:
Artinya: "Bagi kami amalan kami, bagi kamu amalan kamu"
Kesimpulan dari tafsir di atas adalah:
a) Tuhan yang disembah oleh orang-orang mukmin bukan Tuhan yang disembah oleh orang-orang kafir, karena perbedaan sifat antara Tuhan yang disembah oleh orang-orang mukmin dengan Tuhan yang mereka sembah.
b) Cara ibadah yang dilakukan oleh Nabi saw tidak sama dengan cara yang mereka lakukan oleh orang-orang kafir.
c) Tidak ada toleransi dalam iman dan ibadat kepada Allah.
Dalam tafsir yang lain dijelaskan:
1. Ayat 1: Mereka dipanggil dengan hakikat yang ada pada diri mereka dan disifati dengan identitas mereka. Sesungguhnya mereka tidak berpegang pada suatu agama pun dan mereka bukan orang-orang yang beriman. Mereka hanyalah orang-orang kafir. Karena itu tidak mungkin kamu dapat bertemu dengan mereka di tengah jalan kehidupan.
2. Ayat 2: maka ibadahku bukanlah ibadahmu dan yang aku sembah bukan yang kamu sembah.
3. Ayat 3: Maka, ibadahmu bukan ibadahku dan sembahanmu bukan sembahanku.
4. Ayat 4: Ayat ini sebagai penegasan terhadap poin pertama dalam pola kalimat nominal (jumlah ismiyah), yang lebih tegas petunjuknya terhadap kemantapan sifat tersebut dan konsistensinya.
5. Ayat 5: Ayat ini sebagai penegasan terhadap poin kedua supaya tidak ada lagi salah sangka dan kesamaran. Juga supaya tidak ada lapangan untuk berprasangka yang bukan-bukan dan tidak ada syubhat (kesamaran) lagi sesudah penegasan berulang-ulang dengan segenap pola pengulangan dan penegasan ini.
6. Ayat 6: Aku di sini, dan kamu di sana ! Tidak ada penyeberangan , tidak ada jembatan, dan tidak ada jalan kompromi antara aku dan kamu !!
Pemisahan ini sangat vital, untuk menjelaskan perbedaan yang esensial dan total, yang tidak mungkin dapat dipertemukan di tengah jalan. Perbedaan pada esensi kepercayaan, pokok pandangan, hakikat manhaj, dan tabi'at jalan.
Dari uraian-uraian di atas dapatlah disimpulkan, bahwa betapapun tingginya kadar cita-cita kita bersama untuk menggalang kerukunan hidup, terutama kerukunan hidup beragama, perlulah diperhatikan langkah-langkah yang bertentangan dengan ketentuan-ketentuan Akidah dan Ibadah, atau sekurang-kurangnya yang dapat mengaburkan nilai –nilai pokok itu dan menjurus, menyeret manusia secara tidak disadari kepada hal-hal prinsip menurut ajaran agama. Sehingga kita dengan cepat bisa menyadari akan datangnya pengaruh dari luar yang dapat membahayakan kehidupan beragama kita di masyarakat.
Dalam menggalakkan kerukunan antar umat beragama, Islam tidaklah setengah-setengah, bahkan tentang kebebasan beragama yang pada dasawarsa terakhir ini semakin marak, Islam justru menanggapinya dengan lapang dada, karena pluralitas agama itu adalah sudah merupakan kehendak Tuhan. Tentang agama mana yang paling benar di sisi Allah itu kita sendiri tidak bisa mengklaimnya dengan cara kita, karena hanya Allah-lah yang mengetahui kebenarannya. Yang harus kita lakukan adalah meyakini bahwa apa yang kita jalankan sesuai dengan aturan dan syari'at yang telah dibawa Nabi yang diutus oleh Allah ke bumi untuk menyempurnakan akhlak dan moral manusia.
Dari situ tampak jelas bahwa Islam tidak memaksa orang lain untuk memasuki agamanya, karena dlam al-Qur'an dengan tegas dijelaskan bahwa tidak ada paksaan dalam memilih agama, selanjutnya A. Yusuf Ali dalam "The Holy-Qur'an" memberikan komentar, "Compulsion is incompatible with religion", paksaan bertentangan dengan (ajaran agama). Selanjutnya, A. Yusuf Ali menyatakan:
1) Agama adalah menyangkut dengan soal iman dan kemauan hati nurani, dan kalau dilakukan dengan kekerasan, maka tidak lagi dinamakan kemerdekaan pendapat atau pilihan.
2) Kebenaran dan kesalahan dapat dilihat dengan karunia Ilahi dan tidak diragukan oleh pendapat-pendapat orang lain, yang dapat menggoyahkan dasar iman.
3) Lindungan Tuhan berjalan tertib dan teratur dan petunjuk-Nya senantiasa mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya yang lebih terang.
Salah satu motivasi tidak boleh dilakukan paksaan terhadap agama, dalam hal ini agama Islam, ialah karena Islam telah menunjukkan mana yang baik dan mana yang buruk; mana yang menguntungkan dan mana yang merugikan; mana yang membahagiakan dan mana yang menyesatkan. Manusia dikaruniai Allah s.w.t. akal supaya memilih yang baik.
Dalam al-Qur'an juga diterangkan tentang bagaimana seharusnya sikap seorang Muslim memandang dan mengahadapi agama-agama lain dan pemeluknya. Prinsip itu terdiri dari empat patokan:
• Pertama, harus menjauhkan sikap paksaan, tekanan, intimidasi, dan yang seumpamanya. Islam tiak mengenal tindak kekerasan. Dalam pergaulan dengan pemeluk-pemeluk agama lain harus bersikap toleran, yang menurut istilah Islam dinamakan tasamuh.
• Kedua, Islam memandang pemeluk-pemeluk agama lain, terutama orang-orang keturunan Ahli Kitab, mempunyai persamaan landasan Akidah, yaitu sama-sama mempercayai Allah Yang Maha Esa. Islam mengakui kebenaran dan kesucian Kitab Taurat dan Injil dalam keadaannya yang asli (orisinil).
• Ketiga, Islam mengulurkan tangan persahabatan terhadap pemeluk-pemeluk agama lain, selama pihak yang bersangkutan tidak emnunjukkan sikap dan tindakan permusuhan, dan selama tidak bertentangan dengan prinsip Akidah Islamiyah.
• Keempat, pendekatan terhadap pemeluk-pemeluk agama lain untuk meyakinkan mereka terhadap kebenaran ajaran Islam, haruslah dilakukan dengan diskusi yang baik, sikap yang sportif dan elegan.
Kebebasan beragama, dengan segala cabangnya, bukanlah hal baru dalam Islam. Al-qur'an membicarakan hal ini dengan panjang lebar. Seperti yang termaktub dalam Al-Qur'an
لا اكراه في الدين قد تبين الرشد من الغي فمن يكفر بالطاغوت ويئمن بالله فقداستمسك بالعروة الوثقي لا انفصام لها والله سميع عليم (البقره : 256)

Artinya:
"Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam). Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang salah. Karena itu, barangsiapa yang ingkar kepada thaghut (syaithan) dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada tali yang kuat yang tidak akan putus. Allah itu Maha Mendengar dan Maha Mengetahui".

Tafsir:
Berpegang teguh dengan tali yang kuat dan tidak akan putus artinya adalah mempunyai pendirian yang teguh (istiqomah) di jalan yang benar (al-haq); tidak akan tersesat haluannya, tidak akan jatuh dan tidak akan hancur selama-lamanya."
Kemerdekaan untuk menganut sesuatu agama adalah salah satu hak asasi manusia yang dilindungi dengan undang-undang dalam semua Negara-negara yang maju, yang sifatnya Internasional dan universal. Dalam Pernyataan Umum Hak-hak Manusia (Declaration of Human Right) yang dipermaklumkan dan diterima oleh siding umum PBB di Paris tgl. 10 Desember 1948, soal kebebasan beragama disebutkan dalam salah satu pasal dari 30 pasal Hak-hak Asasi Manusia itu.
Pada pasal 18 disebutkan:
"Setiap orang berhak akan kebebasan berfikir, keinsafan bathin dan agama; dalam hak ini termasuk kebebasan akan mengubah agama atau kepercayaannya, baik sendiri atau bersama-sama dengan orang lain, baikpun beramai-ramai, ataupun dalam hidup partikelir dalam pengajaran, amal, ibadat dan dalam menjalankan aturan-aturannya".
Dengan demikian seandainya seluruh umat, dan Islam khususnya mengetahui betapa Islam sendiri menghargai adanya keanekaragaman agama, niscaya konflik yang meng-atasnamakan agama bisa dihindari seminimal mungkin.
b. Menurut Faham Agama Lain
Akar Ideologis kerukunan antar umat beragama menurut perspektif berbagai agama selain Islam adalah sebagai berikut:
 Menurut Agama Konghucu
Dalam pandangan agama Konghucu, pluralitas dianggap sebagai sebuah realitas atau kenyataan. dalam agama ini pula tidak dikenal adanya terminologi atau istilah bangsa pilihan atau bangsa yang lebih dikasihi Tuhan dibandingkan bangsa lain. menurut Konghucu, manusia hanya dilihat dari kebajikannya. manusia yang hidup di jalan suci, jalan Tuhan, atau yang di dalam hidupnya selalu menjunjung kebajikan dinamai 'Kuncu' atau 'Manusia Teladan'.
Ketegasan pandangan agama Konghucu yang tidak membedakan manusia atas dasar asal-usulnya dapat dibaca secara mendalam dalam kitab sucinya. Di sana tidak ada satu kalimatpun yang membeda-bedakan suku atau bangsa yang satu dengan yang lainnya. dengan rendah hati Kongcu tidak pernah mengklaim dirinya sendiri sebagai satu-satunya pembawa kebenaran.
Mengenai sikap toleran, disadarinya bahwa segala sesuatu terjadi melalui proses alami. Ia yakin bahwa seorang Kuncu tetap bisa rukun dalam pengertian yang sebenarnya, meski tidak sama. sebaliknya seorang Siauw Jien meski sama, tetapi tidak bisa rukun.
Selanjutnya dijelaskan oleh Cingcu, salah satu utama Nabi Kongcu, bahwa seorang Kuncu akan secara sadar menggunakan pengetahuannya untuk memupuk persahabatan. Dengan terjalinnya persahabatan yang didasari kebijaksanaan yang berlandaskan pengetahuan kitab suci itu, maka cinta kasih dapat lebih dikembangkan untuk kebahagiaan bersama.
Sikap toleran yang didasari wawasan yang mendalam, membawa satu kesadaran dalam diri nabi Kongcu untuk tidak mencampuri sesuatu yang bukan menjadi porsinya. Dari pengalamannya yang panjang, ia sampai pada kesimpulan bahwa sesuatu yang dilakukan di luar porsinya, lebih banyak mudharatnya.
Dalam hal kepercayaan, keyakinan, agama dan keimanan, setiap orang atau sekelompok orang mempunyai sesuatu yang diyakini kebenarannya. Bila kemudian ada pihak lain yang mencoba 'memaksakan kebenarannya' maka tindakan itu akan sulit diterima, bahkan dapat menimbulkan disharmonis. Atas dasar pertimbangan itulah maka secara sadar Kongcu menganjurkan sikap 'teposeliro'.

 Menurut Agama Katholik
Dalam agama Katholik dikenal dengan istilah moral Katholik. Yang dimaksud dengan moral Katholik adalah pedoman tingkah laku di kalangan umat Katholik. Pedoman menyangkut tingkah laku pada umumnya disebut moral dasar. Pedoman itu sendiri dari pedoman yang bersifat subyektif dan batiniah, yang biasanya disebut suara hati, serta pedoman yang bersifat obyektif dan lahiriah, yang biasanya disebut norma-norma moral.
Pedoman tingkah laku tersebut ada berbagai macam, pedoman di bidang yang khusus misalnya dalam bidang perkawinan, kesehatan, dan kemaysarakatan.
 Dalam bidang perkawinan
Dibandingkan dengan moral di bidang-bidang yang lain, moral Katholik di bidang perkawinan dikatakan sebagai moral yang paling cepat dirumuskan. Dalam moral ini umat Katholik menolak adanya perceraian karena mereka menganggap bahwa suami istri itu disatukan oleh Tuhan dan tidak boleh dipisahkan oleh manusia itu sendiri. Akan tetapi masih ada keringanan untuk masalah perceraian ini yaitu bagi pasangan suami istri yang belum melakukan hubungan seks, maka berdasarkan hukum adat sebagian bangsa Eropa mereka boleh untuk bercerai dengan alasan yang valid.
 Dalam bidang kesehatan
Dalam bidang kesehatan umat Katholik tidak hanya menerapkan ilmu modern saja akan tetapi juga tetap berdasarkan kitab suci. setiap penemuan baru di bidang kesehatan ditanggapi oleh pimpinan Gereja Katholik dengan ajaran moral yang tegas, walaupun dasar dari ajaran itu tidak selalu dapat dicari dalam kitab suci.
Dalam ajarannya mereka juga menolak keras terhadap pembunuhan, baik itu pembunuhan manusia dewasa ataupun pembunuhan janin atau biasa disebut aborsi. mereka menganggap bahwa pembunuhan itu melanggar sepuluh perintah Allah. Pendapat mereka, bahwa kehamilan hanya boleh dicegah secara alamiah, yaitu dengan pantang berkala, melalui ketidaksuburan berkala yang ada pada diri tiap wanita.
 Dalam bidang kemasyarakatan
Dalam bidang ini umat Katholik juga memperhatikan masalah ekonomi yang saat itu berkembang yaitu sistem ekonomi kapitalis yang hanya menguntungkan swasta saja.
Searah dengan itu, para ahli moral Katholik maupun Paus juga menolak dua pandangan sosio-politis yang paling popular pada abad 20, yakni pandangan komunis dan pandangan liberal. Pandangan komunis ditolak karena tidak menghargai kebebasan tiap warganegara, sedangkan pandangan liberal dikritik karena terlalu menghargai pandangan individu sampai kurang memperhatikan kepentingan bersama.
Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa Umat Katholik juga mempunyai kepedulian besar terhadap kesejahteraan rakyat. hal itu dilakukan karena mereka berpedoman kepada kitab suci yang mengajarkan kepada mereka tentang ajaran –ajaran Allah yang menganjurkan untuk perdamaian dan kesejahteraan umat.

 Menurut agama Hindu
Pada masa kejayaan kerajaan Hindu di Nusantara, telah berkembang suatu masyarakat Kertagama, yakni suatu masyarakat majemuk yang berada dalam dinamika dan harmoni di bawah suatu tertib hukum dan kearifan kepemimpinan yang bersumber pada agama sebagai sandaran utama moralitas masyarakat. Di dalamnya elemen-elemen masyarakat berinteraksi berlandaskan sasana (etika) yang berlangsung dalam semangat kesetiaan dan keselarasan.
Dalam agama Hindu, pluralitas dipandang sebagai suatu manifestasi dari vibhuti (kemahakuasaan) Hyang Widhi. Di balik bermacam-macam maya dalam jagat raya ini termasuk di dalamnya kebhinekaan umat manusia, ada realitas yang bersumber dan bermuara pada ke-Esa-an. Dari situlah umat Hindu memandang bahwa tumpah-darah lebih mulia dari segala kesenangan hidup. Artinya keanekaragaman yang ada bukanlah penghalang untuk membina persatuan dan kesatuan bangsa.
Menurut agama Hindu, Negara kebangsaan yang dibangun di atas landasan pluralitas, merupakan idea yang terwujud dari kebajikan bersama yang transenden maupun duniawi, dengan kesadaran esensial atas realitas histories dan sosio-kultural bangsa. Umat Hindu sejati sebagai "makhluk pluralistis luar dalam", senantiasa berusaha mengusung integritas eksistensi nation-state sebagai bagian dari totalitas ibadah, dan dalam menyikapi momen-momen atau isu-isu penting senantiasa berusaha bersikap kritis dan proporsional, fleksibel dan konsisten. Kalau semangat kebangsaan ini bertiup laksana angin, maka pilihan kelipah angina ini adalah yang menyejukkan dan menyegarkan, bukan "putting beliung" yang membawa bencana.

 Menurut agama Buddha
Sebagai orang beriman, kita persaya bahwa seluruh alam semesta adalah ciptaan Tuhan. Manusia yang diciptakan oleh Tuhan memiliki persamaan dan perbedaan satu dengan yang lainnya. Pengakuan bahwa Tuhan itu esa mempunyai hubungan positif bahwa manusia di manapun berada, diikat oleh nilai-nilai kemanusiaan yang sama. Kebesaran Tuhan yang mengkaruniakan bermacam-macam agama sebagai cahaya kebenaran, bukan berarti bahwa Tuhan membenarkan diskriminasi atas manusia. Semua manusia sama di hadapan Tuhan, sebab yang dinilai adalah kebajikan dan ketaatannya kepada perintah-Nya, bukan atas dasar agama atau kelas sosialnya.
Semua agama menghendaki perdamaian dan sesungguhnya dapat bekerjasama untuk kebaikan bersama. Para pemeluk agama dapat menyebarluaskan dan menjadi teladan bagi kerjasama dan perdamaian tersebut.
Dalam agama Buddha dikenal dengan adanya Lima Peraturan Moral atau Pancasila Buddhis. Adapun muatannya adalah sebagai berikut:
1. Menghindari pembunuhan makhluk hidup
2. Menghindari pencurian
3. Menghindari perbuatan asusila
4. Menghindari ucapan tidak benar
5. Menghindari perbuatan yang menyebabkan mabuk / ketagihan.
Untuk memperjelas pengkajian selanjutnya perlu diketahui pela pasangan dari masing-masing peraturan yang terdapat pada Pancasila Buddhis. Kelompok pasangan ini disebut Panca-dhamma (Lima praktek mulia):
 Mengembangkan cinta-kasih dan kasih-sayang
 Mengembangkan mata pencaharian yang benar
 Mengembangkan kesetiaan ikatan perkawinan
 Mengembangkan kejujuran
 Mengembangkan kewaspadaan.
Lima praktek mulia atau Pancadhamma mempunyai corak perilaku aktif dan positif, berbeda dengan Pancasila Buddhis yang mempunyai corak perilaku aktif dan negatif. Dengan demikian antara dua macam corak tersebut ibarat dua telapak tangan yang saling bersebelahan, terdapat kaitan yang sangat erat, misalnya: manusia menghindari pembunuhan makhluk hidup agar dapat mengembangkan cinta-kasih dan kasih-sayang, demikian pula seterusnya.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur'an dan Terjemahnya, Departemen Agama RI, Mahkota, Surabaya.
Al-Qur'an dan Tafsirnya, Milik Depag RI (dengan perbaikan), Des 1990.
SAYYID QUTHB, Tafsir Fi Zhilalil Qur'an (Di bawah Naungan Al-Qur'an),Gema Insani, Jakarta, 2001, Jilid:12.
H.M. YUNAN NASUTION, Islam dan Problema-problema Kemasyarakatan, Penerbit: BULAN BINTANG, Jakarta-Indonesia, 1988.
Tafsir Al-Manar, Cv. Mahkota, Surabaya, jilid III.
DR.H. MOCH. QASIM MATHAR, M.A, SEJARAH, TEOLOGI, DAN ETIKA AGAMA-AGAMA, Penerbit: DIAN / INTERFIDEI, Yogyakarta, Cet: I, 2003.
Nabi Kongcu Bersabda: 'Seorang Kuncu dapat rukun meski tidak sama. Seorang rendah budi dapat sama, meski tidak dapat rukun' (Lun Gi, Jilid XIII, 23).
Cingcu berkata: 'Seorang Kuncu menggunakan pengetahuan kitab untuk memupuk persahabatan. Dan dengan persahabatan, mengembangkan cinta kasih (Lun Gi Jilid XII, 24)
SLAMET MULYANA, Negara Kertagama dan Tafsir Sejarahnya, Jakarta: Bhiratara Karya Aksara, 1979.


April 06, 2011

Dilarang Keras Meniru Wanita Berjilbab yang Seperti Ini! (Wajib!)

Lagi-lagi browsing, ketemu foto-foto kayak gini. Aduh... Gimana ya... Namun mereka boleh saja memakai jilbab di luar, tapi kok enggak kalah sama kelakuan wanita-wanita lainnya yang berpenampilan seronok, enggak tahu apa maksud foto dibawah ini. Mungkin ini hanya foto colongan seseorang atau mantan pacarnya yang diputusin hingga berani menyebarkan foto gadis jilbab.






April 19, 2010

Peran Ayah dalam Mendidik Anak

Peran ayah dalam pendidikan, dalam bahasa Inggris, ialah 'to father'. Di dalam bahasa Inggris terdapat tiga istilah yang berhubungan dengan tugas mendidik anak, yaitu 'mothering', 'fathering', dan 'parenting'. Meskipun semuanya membicarakan tentang tugas mendidik anak, namun ada keunikan masing-masing dalam konteks sumbangsih ayah dan ibu dalam mendidik anak.

Salah satu tugas ayah kristiani ialah:

"Kamu harus mengajarkannya (perintah Tuhan) kepada anak-anakmu dengan membicarakannya, apabila engkau duduk di rumahmu dan apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun;" (Ulangan 11:19)

Dengan jelas Tuhan menghendaki agar kita mengajarkan perintah Tuhan dengan cara membicarakannya. Apabila Anda seperti saya, mungkin Anda juga mengalami kesulitan membicarakan, apalagi mengajarkan perintah Tuhan kepada anak-anak Anda. Saya kira membicarakan dan mengajarkan bukanlah perkara yang terlalu sulit, yang terlebih sukar adalah membicarakan dan mengajarkan secara tepat dan pada waktu yang tepat sehingga dapat dicerna oleh anak kita. Ada satu peristiwa yang Tuhan berikan kepada isteri dan saya dimana kami berkesempatan mengajarkan dan membicarakan Firman Tuhan kepada salah satu anak kami. Pelajaran yang kami sampaikan berasal dari Matius 7:12 dan wahana penyampaiannya, tak lain tak bukan, bola basket.

Saya percaya bahwa salah satu alasan mengapa Matius 7:12 mendapat julukan "Hukum Emas" (The Golden Rule) adalah karena nilai yang terkandung di dalamnya bak emas yang sangat berharga. Hukum ini mengatur relasi kita dengan sesama secara agung sekaligus praktis. Perhatikan apa yang Tuhan Yesus katakan, "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi." Berbahagialah orang yang mampu menerapkan Firman Tuhan. Apabila seseorang memperlakukan orang lain sama seperti ia ingin diperlakukan, ia sudah memiliki "emas" yang tak ternilai. Sebagai orang tua kami pun rindu agar anak-anak kami mempunyai "emas" yang tak ternilai itu dan Tuhan telah menyediakan sarananya.

Suatu hari ibu guru salah seorang anak kami yang berumur hampir 9 tahun menelepon isteri saya untuk memberitahukan bahwa tadi anak kami menangis di sekolah. Menurut ibu guru tersebut, anak kami ingin bermain bola basket dengan kawan-kawannya namun mereka tidak mengizinkannya bermain dengan mereka. Ia merasa perlu memberitahukan kami sebab ia merasa prihatin melihat kesedihan anak kami yang mendalam itu. Pada sore harinya isteri saya menceritakan kepada saya perihal anak kami itu. Sebelumnya isteri saya sudah menanyakan anak kami dan ia bercerita bahwa memang benar ia menangis karena tidak diajak bermain bola basket. Reaksi alamiah kami adalah rasa iba sebab kami menyadari bahwa anak kami itu memang senang bermain basket. Penolakan teman-temannya sudah tentu mendukakan hatinya.

Mendengar peristiwa tersebut, dengan didorong oleh rasa iba dan hasrat untuk menghiburnya, saya bergegas memanggil anak kami itu dan mengajaknya bermain bola basket di halaman rumah. Melalui permainan itulah akhirnya Tuhan menyadarkan saya akan salah satu tugas mendidik selain dari menghibur anak, yakni mengajarkan Firman Tuhan. Tuhan membukakan mata saya terhadap hal-hal tersembunyi yang jauh lebih hakiki daripada sekadar menghibur anak. Pada saat bermain itulah baru saya memahami mengapa teman-temannya enggan mengajaknya bermain. Alasannya tidak lain tidak bukan adalah ia bermain curang! Naluri keayahan saya mendorong saya bertindak sebagai pahlawan yang ingin membela anak kami, seolah-olah dengan mengajaknya bermain saya berkata, "Biar semua orang tidak mau bermain denganmu, saya akan selalu siap bermain denganmu." Namun, ternyata dia jugalah pemicu perlakuan teman-temannya.

Pada waktu kami sedang bermain, kakaknya juga turut melempar-lempar bola ke basket. Adakalanya bola yang sedang dilemparnya bersentuhan dengan bola basket kakaknya dan ia pun dengan segera meminta mengulang ... dengan bola di tangannya lagi. Namun pada suatu ketika, bola itu bertabrakan dengan bola yang dilempar kakaknya, tetapi kebetulan saat itu, sayalah yang sedang melempar bola. Dengan serta merta ia mengambil bola dari tangan saya dan "menghukum" saya dengan cara memberinya hak untuk melempar bola ke basket dua kali. Saya berusaha menerangkannya bahwa keputusannya itu keliru namun ia tidak peduli dan malah mogok bermain. Dengan bersimpuh di tanah sambil menduduki bola itu ia bersikeras bahwa sayalah yang salah dan selayaknya menerima hukuman.

Saya mencoba untuk menjelaskan bahwa ia telah bertindak tidak adil sebab pada waktu hal yang sama terjadi pada dirinya bukan saja ia tidak menghukum dirinya, ia malah menghadiahi dirinya. Ia tetap tidak menerima penjelasan saya dan menolak untuk mengakui ketidakkonsistenannya. Di dalam ketidakkonsistenannya itu saya jelaskan padanya bahwa jika ia tetap berbuat demikian maka tidak akan ada orang yang ingin bermain lagi dengannya dan saya tidak ingin melihat ia menjadi orang yang tidak mempunyai teman. Setelah mengatakan hal itu, saya lalu memeluknya dan ia pun mulai meneteskan air mata. Kemudian saya menanyakan kembali, dan sekarang ia siap mengakui ketidakadilannya itu. Sesudah itu saya mengajaknya bermain lagi dan ia pun bermain jujur dan adil.

Saya berterima kasih kepada Tuhan yang tidak membiarkan saya melewati kesempatan emas yang tak ternilai itu. Betapa mudahnya bagi saya melakukan tugas keayahan saya dengan cara menghibur anak kami namun kehilangan pelajaran yang sangat berharga. Melalui peristiwa tersebut ada empat hal yang saya pelajari yang berfaedah bagi tugas keayahan:

1. Tugas mendidik menuntut waktu.
Sudah tentu keinginan atau kerinduan menjadi ayah yang baik adalah penting, namun tekad tersebut haruslah diwujudkan dalam bentuk waktu yang diberikan bagi anak kita. Tanpa waktu, tidak akan ada kesempatan "mengajarkan dengan cara membicarakan" pedoman hidup yang berasal dari Firman Tuhan. Jika saya tidak menyediakan waktu untuk bermain basket dengan anak kami, tidak akan ada peluang untuk menyaksikan kelakuannya dan sekaligus mengoreksi sikapnya.
2. Tugas mendidik membutuhkan kesediaan untuk melihat kelemahan anak kita.
Kita perlu terbuka untuk menerima kenyataan bahwa anak kita bukan saja tidak sempurna, namun akibat dosa, ia pun berpotensi merugikan orang lain. Adakalanya sulit bagi kita untuk mengakui kelemahan anak kita karena kelemahannya sedikit banyak merefleksikan kekurangan kita pula.
3. Tugas mendidik lebih mendahulukan pendekatan kasih daripada konfrontasi.
Kadang kita perlu memperhadapkan anak kita dengan perbuatannya secara tegas; sekali-sekali kita perlu menghukumnya. Namun yang harus lebih sering dan diutamakan adalah menegurnya dengan kasih. Makin keras saya menegurnya, makin bersikeras ia menyangkalnya. Sebaliknya, tatkala dengan lemah lembut saya menegurnya, ia pun luluh dan bersedia menerima perkataan saya.
4. Tugas mendidik yang kristiani menuntut kita menjadi ayah yang mengenal Firman Tuhan.
Tanpa pengenalan akan Firman Tuhan, kita tidak bisa mendidiknya seturut dengan Firman Tuhan. Hukum Emas dari Matius 7:12 sangatlah penting, tetapi masih banyak kebenaran Firman-Nya yang perlu kita sampaikan kepada anak kita.


sumber: http://www.benih.net/lifestyle/mencerdaskan-anak-ayah-pun-bisa-ikut-berperan.html


Mencerdaskan Anak, Ayah Pun Bisa Ikut Berperan

PERAN pendidikan bagi anak, tak melulu menjadi tanggung jawab sang ibu. Ayah pun sebaiknya terlibat aktif dalam pendidikan si kecil. Selami kemampuan anak sebelum mulai mendidik si buah hati.

Dalam masa pertumbuhan, orangtua mengambil peran yang sangat penting dalam mendidik anak. Nah, sebenarnya peran pendidikan ini tanggung jawab siapa? Tak harus ibu, ayah pun harus ikut berperan mendidik dan mencerdaskan buah hatinya.

“Anandi kalau belajar maunya sama saya, padahal kan ngajarin anak belajar itu tugas ayahnya, saya mah gak bisa, gak sabaran,” ucap Ela Hartani, seorang ibu rumah tangga yang sedang menceritakan pola pengasuhan anak kepada temannya saat arisan, beberapa waktu lalu.

Psikolog anak Roslina Verauli MPsi menyebutkan, peran orangtua dalam pengasuhan anak kerap mengalami perubahan seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan anak.

“Itu sebabnya, orangtua diharapkan mampu memahami tugas-tugas perkembangan anak untuk setiap tahap tumbuh kembangnya,” tuturnya saat acara yang diadakan Frisian Flag dengan tema “Smart Parents Confrence” di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Untuk menciptakan anak yang cerdas, orangtua harus terlebih dahulu memahami apa yang dimaksud dengan kecerdasan dan kemudian memahami perkembangan kognitif pada anak. Dengan demikian, orangtua khususnya ayah juga diharapkan menjadi fasilitator perkembangan anaknya.

Mengacu pada pakar psikologi perkembangan terkenal asal Swiss, Jean Piaget, Roslina menjelaskan, anak perlu melakukan aksi tertentu atas lingkungannya untuk dapat mengembangkan cara pandang yang kompleks dan cerdas atas setiap pengalamannya.

Dan sudah menjadi tugas orangtua untuk memberi anak pengalaman yang dibutuhkan anak agar mereka berkembang kecerdasannya. Setiap orangtua memiliki peranan yang besar bagi anak. Selama ini yang diketahui orangtua pada umumnya adalah peran mereka sebatas membesarkan dan melindungi anak agar kelak menjadi individu yang mandiri dan kompeten. Namun, seperti apa proses membesarkan anak, kerap menjadi tanda tanya.

“Yang dipikirkan orangtua adalah bagaimana mereka membesarkan anak dan menjadikannya sebagai individu yang mandiri dan berkualitas,” ucap psikolog yang akrab disapa Vera ini.

Hal tersebut dapat dimaklumkan karena setiap orangtua membawa sejumlah kualitas pribadi dan berbagai kebutuhan yang kompleks dalam peranannya sebagai orangtua.

Sama halnya seperti anak, orangtua juga memiliki jenis kelamin dan temperamen yang berbeda sehingga turut memberikan cara-cara yang berbeda dalam pengasuhan.

“Bahkan lebih jauh, orangtua membawa serta pengalaman masa lalunya terdahulu saat diasuh orangtuanya semasa ia kecil, dan sejumlah nilai budaya yang membentuk apa yang mereka lakukan saat ini,” papar Vera.

Selain itu, orangtua juga memiliki pola-pola kehidupan sosial, seperti hubungan bersama pasangan, keluarga besar, dan dunia kerja. Pola kehidupan sosial itulah yang secara otomatis dibawa dalam pengasuhan anak.

“Ini bukan hanya tugas ibu, tetapi kedua orangtua dalam membesarkan anak,” tandasnya.

Mengingat peran jenis kelamin turut memengaruhi pola pengasuhan, dikatakan Vera, banyak sekali pertanyaan yang terlontar, apakah ayah dan ibu memiliki peran-peran yang berbeda dalam pengasuhan?

“Secara umum, ayah dan ibu memiliki peran yang sama dalam pengasuhan anak-anaknya. Namun, ada sedikit perbedaan sentuhan dari apa yang ditampilkan ayah dan ibu,” ujar psikolog yang berpraktik di Empati Development Center.

Dalam menjadikan anak yang cerdas, harus diketahui terlebih dahulu apa itu kecerdasan. Vera menjelaskan, kecerdasan tak sebatas kecerdasan di sekolah yang terukur dari kemampuan anak dalam belajar membaca, berhitung, atau menggambar.

“Namun, lebih dari itu. Kecerdasan adalah kemampuan berpikir pada tingkatan yang lebih tinggi, yang mencakup pembentukan konsep, pemecahan masalah, kreativitas, memori, persepsi, dan masih banyak lagi,” paparnya.

Ada sejumlah kemampuan kognitif atau kemampuan berpikir yang menggambarkan kecerdasan. Antara lain kemampuan untuk mengelompokkan pola, kemampuan memodifikasi perilaku agar lebih adaptif,kemampuan melakukan penalaran deduktif, kemampuan melakukan penalaran induktif, kemampuan mengembangkan konsep, dan kemampuan untuk memahami atau melihat keterkaitan pada sejumlah informasi.

Salah satu kemampuan yang sangat dikenal adalah kemampuan melakukan penalaran berpikir secaramatematis, seperti yang dimiliki Albert Einstein. Kecerdasan pada area ini dipercaya dapat mewakili kecerdasan pada area yang lain. Mengembangkan kecerdasan dalam melakukan kemampuan berpikir logis akan meningkatkan kecerdasan anak secara umum.

Meskipun sesungguhnya orangtua dapat mengembangkan berbagai kemampuan logika berpikir yang lain pada anak. Misalnya, logika berpikir dalam menganalisis masalah dalam sebuah cerita, dalam sebuah gambar atau balok,dalam sebuah gerakan tari atau senam, dalam sebuah irama lagu, dan masih banyak lagi.

“Kecerdasan merupakan kemampuan berpikir yang lebih advance. Untuk dapat meningkatkan kecerdasan anak, ayah pun perlu turut belajar memahami tahap perkembangan kemampuan berpikir pada setiap tahap usia anak,” sebut psikolog yang berpraktik di Rumah Sakit Cengkareng, Jakarta Barat.

Selami kemampuan, apa yang sedang berkembang pada anaknya di usia tertentu. Dengan begitu, ayah dapat menentukan permainan dan kegiatan seperti apa yang dapat merangsang perkembangan kemampuan berpikir anak agar kecerdasannya tumbuh optimal.


Peranan Ibu Dalam Mendidik Anak

Di belakang tokoh yang agung pasti ada wanita yang agung di belakang orang-orang yang mulia pasti ada wanita yang mulia, Setidaknya itu lah yang juga pernah terjadi pada masa Rasulullah. Disamping beliau ada ibunya yang begitu taat, Khadijah istri beliau yang setia mendampingi beliau dalam suka dan duka. Setelah istri beliau wafat ada anak beliau fatimah yang mendampingi setelah kemudian ada Aisyah yang tidak bisa kita abaikan pengorbanannya.

Rasulullah adalah pemimpin dunia yang merubah peradaban dunia, orang yang begitu disegani oleh musuhnya dan begitu disayangi oleh sahabat dan sanak keluarga beliau. Kepribadiannya sangat sempurna, tak anak manusia yang tak mengagumi Rasulullah setelah mengenal kepribadiaanya.

Diantara begitu banyak kelebihan yang beliau miliki, kita mengakui bahwa itu adalah kuasa Allah yang dianugerahkan kepada kekasih-Nya. Namun selain itu ada peranan perempuan-perempuan tangguh yang mendukung dan membimbing beliau, ini sangat mempengaruhi kepribadian rasulullah.

Seorang wanita bermahkota ibu,menggenggam jari-jari kecil ikatan ini tidak akan terurai karena tautan ini tautan darah dan aqidah dan rahmat dari Allah. Seorang ibu mempengaruhi hidup anaknya, ialah sekolah dasar yang ditempuh anak dalam kehidupannya. Dari rahim ibu yang shalehahlah akan lahir seorang anak yang yang shaleh hingga kelak akan menjadi ulama besar agama ini.

Ibu mempunyai peranan yang sangat penting dalam pembinaan anak, jika ibundanya salh langkah maka tak ada yang bisa diharapkan dari anak. Ada beberapa fakta salh mendidik anak dalam kehidupan kita sehari-hari diantaranya :

— Mengajari anak berbicara lantang terhadap orang lain tanpa difikirkan dan dipertimbangkan lebih dahulu

— Membiasakan mereka dengan sifat pengecut, penakut, keluh kesah dan kepanikan

— Membiasakan mereka hidup mewah, glamor, dan memberikan segala apa yang dia minta

— Bersikap keras dan kasar kepada anak melebihi batas kewajaran atau sebaliknya terlalu lembut di luar batas kewajaran

— Terlalu pelit kepada anak

— Tehalangnya anak untuk mendapatkan belaian kasih sayang

— Terlalu berbaik sangka terhadap anak atau sebaliknya

— Pilih kasih

— Tidak segera menikahkan anak-anaknya walaupun sudah waktunya

Masih banyak lagi hal-hal yang menyebabkan anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang tak sesuai dengan Alquran dan sunnah rasul kita. Sudah selayaknya kita sebagai ibu atau calon ibu untuk menata diri dan membuat perubahan terhadap diri kita dalam hal mendidik anak, agar kelak anak-anak kita menjadi pembela agama ini dan menjadi kekasih Rabbnya.

Diantara upaya mendidik anak berikut ini ada bebrapa tips usaha yang dapat dilakukan oleh seorang ibu dalam upaya mengusahakan yang terbaik untuk si buah hatinya kelak.

— Mencari istri shalehah/ suami shalih

— Berdo’a kepada Allah agar dikaruniakan anak yang shalih

— Senang/ridha menerima takdir Allah bila dikaruniakan putra/putri

— Memohon kepada Allah agar bisa mendidik anak

— Berdo’a untuk kebaikan anak

— Menamai mereka dengan nama yang baik

— Menanamkan nilai-nilai kebenaran dan akidah yang benar ke dalam jiwa anak (lihat pesan Luqman kepada anaknya)

— Menanamkan sifat-sifat terpuji dan akhlak yang mulia serta menjauhkan dari akhlak tercela

— Membiasakan sikap ihtiram/ikram kepada orang tua

Dan di sini tak hanya ibu yang berperan penting tetapi ayah juga mempunyai andil dal hal pendidikan anak...”Karena sesungguhnya setiap anak lahir dalam keadaan fitrah,ayah dan ibunya lah yang memajusi atau mengkafirkannya.

Semoga bermanfaat bagi kita semua, ini hanya lah sebagian kecil hasil dari seminar bersama Ummmu Shadiq yang memotivasi setiap jiwa ibu dan calon ibu untuk kelak menjadi dan dapat melahirkan ulama-ulama besar yang mengembalikan kejayaan islam pada masa lalu


April 15, 2010

keluh kesah sianak semata wayang

banyak orang bilang menjadi anak semata wayang itu enak, apa-apa terkabulkan ketika kita jajan hanya untuk diri kita sendiri, kasih sayang orang tua tak ada yang menyaingi hanya untuk kita sendiri,permintaan kita pasti terwujud. aq dulu juga mempunyai pikiran yang serupa namun setelah aku jalani ternyata menjadi anak semata wayang itu disisi laen ada enaknya tapi disisi yang lain juga ada rasa tak enak, sepi dan tak ada teman tuk saling cerita dan saling bertukar pendapat, dikala kita mendapatkan masalah kita tak punya tempat mengadu selain pada orangtua, dikala kita sedih kita tak punya teman untuk menghibur kita, dikala kita menangis tak ada yang mengayomi kita hanya orang tualah yang terus menjadi penyemangat dalam hidup kita, coba kita bandingkan pada orang yang mempunyai saudara walaupun cuma satu saudara diantara mereka saling tertawa bersama, menyelaikan masalah bersama,saling mengayomi
ketika salah satu dari mereka ada yang bersedih, dan yang paling indah ketika kedua orang tua kita sudah renta dan lanjut usia mereka bersama-sama merawatnya sampai ajal menjemput orang tua mereka,tapi lain halnya dengan anak yang hanya ditakdirkan untuk terlahir sebagai anak semata wayang kitika orang tua mereka renta dan sakit-sakitan mereka hanya bisa merawatnya dengan diri mereka sendiri tak ada yang membantu mereka, mereka harus terlunta lunta dalam mencari biaya untuk berobat kedua orang tuanya, mereka tak ada yang bisa memberikan semangat dalam kehidupan mereka, tak ada yang bisa menjadi penghibur hati mereka yang sedih, dan tak ada tempat untuk mereka bersandar dikala mereka butuh tempat tempat bersandar dan mereka juga tak mempunyai tempat untuk menceritakan hiruk pikuk kehidupan mereka.mereka hanya dapat memikul masalah mereka sendiri tak ada yang peduli dengan diri mereka kecuali kedua orang tua mereka, saat aku sangat mengimpikan bisa mempunyai seorang kakak yang sayang sama aq dan kedua orang tua, bisa menghiburku dikala aq sedang sedih dan terluka, bisa menyelesaikan masalah yang sedang aku hadapi dan menjadi tumpahan segala duka lara yang terjadi pada diriku...namun semua itu hnyalah impian belaka yang tak akan pernah terwujud dalam hidupku,,,,,,aku tak pernah memilih untuk terlahir sebagai anak semata wayang,namun yang kuasa telah mengatur semuanya,,,,,,konon kata buyut-buyutku, aku dulu hampir meninggal gara-gara penyakit yang aku derita,,,namun syukur alhamdulillah aku masih diberi kesempatan untuk melihat dan menikmati kehidupan didunia ini,,,,dan masih bisa merasakan betapa besar kasih sayang org tuaq yang diberika hanya untukq,,,,namun sekarang aku belum bisa membalas kasih sayang mereka yang selama ini mereka berikan kepadaku....tuhan jangan engkau biarkan aku mati sebelum aku sempat membahagiakan mereka,,,,jangan biarkan aku putus asa untuk terus selalu berusaha membuat bangga kedua orang tuaku,,,tak akan ku biarkan mereka meneteskan air mata mereka didepan mataku,,,tak akan aku biarkan mereka disakiti oleh orang-orang yang tak bertanggungjawab atasa perbuatan mereka ,,,,,tak akan kubiarkan mereka bersedih karenaku,,,,,,aq rela mengorbankan kebahagianku demi kebahagian kedua orang tuaq sampai titik kehidupanku aku akan selalu berjuang dan terus berjuang untuk membela kedua orang tuaq,,,dan akan membela mereka selagi mereka dalam jalan yang benar.
ayah....bunda maafkanlah anakmu ini yang belum bisa membuat kalian berdua tersenyum dan bahagia.......salam sayang dan kecupan manis dariku untuk ayah dan bundaku tersayang.....ANAZDIKA AJA
menurut kalian semua mana lebih nyaman mempunyai saudara dan menjadi anak semata wayang.....?
masih banyak hal yang ingin aku tulis dala catatanku ini namun rasa bosan dari kacau membuat aku harus mengakhirinya......


April 13, 2010

Pelajaran Cinta dari Bilqis

JAKARTA, KOMPAS.com — Bilqis Anindya Passa tidak pernah memilih untuk dilahirkan dengan atau tanpa atresia billier. Namun, toh, ia ditakdirkan hidup sekejap untuk berdampingan dengan penyakit kelainan hati itu. Selama 19 bulan menyongsong dunia, Bilqis tak bisa menikmati hidup layaknya anak balita seusianya.

Putri pasangan Dewi Farida dan Donny Ardianta Passa itu menderita penyakit yang timbul akibat rusaknya saluran empedu di luar hati sehingga tidak ada aliran empedu dari hati ke dalam usus 12 jari yang normalnya terjadi. Kelainan itu membuat hati Bilqis rusak. Untuk mengatasinya, Bilqis harus menjalani transplantasi hati.

Kehadiran Bilqis telah memberi pelajaran tentang cinta sekaligus pengorbanan kepada seluruh masyarakat di Tanah Air. Pemberitaan tentangnya telah sekejap menggugah hati nurani penderma untuk berpaling dari isu-isu pertikaian politik.

Balita 19 bulan itu mampu menyedot perhatian hampir seluruh masyarakat di Tanah Air. Ketegarannya menghadapi penyakit menggugah hati para dermawan di Tanah Air. Melalui penggalangan dana Koin Cinta Bilqis, dana lebih dari Rp1,1 miliar berhasil dikumpulkan.

"Luar biasa", Bilqis adalah anak yang hebat. Dia bisa mengumpulkan banyak uang melalui Koin Cinta Bilqis. Kami tidak menyangka anak ini dilahirkan untuk mendapat perhatian banyak orang seperti ini," kata ayah Bilqis, Donny.

Semula dana sebanyak itu akan digunakan untuk operasi cangkok hati demi impian sembuh bagi Bilqis. Meski awalnya seluruh rangkaian operasi transplantasi hati tersebut memerlukan biaya yang tinggi, toh bantuan dermawan terus saja mengalir.

Secercah harapan memang sempat timbul, tetapi kembali tenggelam saat paru-paru Bilqis terserang bakteri ganas dan mematikan. Bayi yang lahir 20 Agustus 2008 itu pada akhirnya harus menyerah pada atresia billier yang telah menyertainya sejak lahir.

Bilqis Anindya Passa meninggal pada 10 April 2010 pukul 15.15 di RS Karyadi, Semarang, Jawa Tengah, akibat gagal napas dalam proses yang harus ia jalani sebelum operasi cangkok hati.

Inspirasi

Bilqis adalah inspirasi bagi banyak orang. Ngabdu Salam (33) dan Ani Purwaningsih adalah dua di antaranya. Pasangan suami istri itu memiliki bayi bernama Abdullah Ichsanul Fikri yang serupa nasibnya dengan Bilqis.

"Fikri juga akhirnya meninggal pada 20 Februari 2010 karena atresia billier," kata Ngabdu yang ditemui setelah pemakaman Bilqis di TPU Kawi-kawi, Jakarta Pusat. Fikri, nama panggilan Abdullah Ichsanul Fikri, meninggal dunia saat masih menjalani perawatan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

Berkat Bilqis, kata dia, keluarganya memiliki harapan melalui pengumpulan koin cinta untuk pengobatan Fikri meski pada akhirnya anaknya meninggal akibat pembuluh darah yang pecah pada 20 Februari 2010. "Bilqis telah memberikan pelajaran kepada kita untuk beramal dan membuka ladang bagi para donatur di seluruh Indonesia," katanya.

Fikri sendiri melalui upaya penggalangan dana koin cinta mampu mengumpulkan dana Rp 38 juta dalam waktu dua pekan. Baik Fikri maupun Bilqis, baginya telah memberikan pelajaran yang sangat berharga. Keduanya adalah amanah cinta dari Tuhan yang harus dimaknai kehadirannya meski sesaat. "Saya sudah menunggu dia (Fikri) lahir selama delapan tahun usia pernikahan kami," katanya.

Namun, kehadiran Fikri ditetapkan hanya sesaat, tak sampai dua tahun amanah itu kembali "pergi". "Banyak sekali hikmahnya, bahkan ada donatur yang akan memberangkatkan saya dan istri untuk umrah," katanya.

Bilqis dan Fikri dengan kelainan atresia bilier tidaklah sendirian. Data dua tahun di RSCM menunjukkan, ada 164 bayi dengan kelainan hati yang disebut kolestasis, 23 persen di antaranya adalah atresia bilier. Karena itulah, baik keluarga Bilqis maupun Fikri akan terus berjuang.

"Ada banyak bilqis-bilqis lain yang memerlukan perhatian kita. Keluarga kami telah sepakat untuk mendirikan yayasan yang khusus menangani penderita atresia bilier," kata koordinator Koin Cinta Bilqis, Fahrur Djenar.

Fahrur yang juga paman Bilqis itu bersama semua keluarga menyatakan tidak akan berhenti berjuang bagi bilqis-bilqis yang lain di Indonesia sebab terlampau mudah untuk mengeja kata sayang untuk Bilqis. Selamat jalan Bilqis, selamat jalan Fikri.